Surat Ar-Rahman Ayat 13

سُورَةُ الرَّحۡمَٰن · Madaniyah · Ayat 13 dari 78

فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Dunia Al-Qur'an

Dalam Surah Ar-Rahman, Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya kepada kita dan jin, "فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ" (`fabi'ayyi aalaai Rabbikuma tukadziban`). Ayat ini berulang 31 kali dalam surah ini, sebuah pertanyaan retoris yang kuat dan mendalam, yang menyentuh hati setiap makhluk.

Makhluk yang Diseru

Ayat ini secara jelas ditujukan kepada dua golongan makhluk berakal: manusia (`al-ins`) dan jin (`al-jann`). Para ulama tafsir, seperti al-Baghawi dan Mufti Shafi, sepakat bahwa "ربكما" (Rabb kalian berdua) merujuk kepada kedua "ثقلان" (`ats-tsaqalan`), yaitu dua jenis makhluk berakal yang telah Allah ciptakan. Pertanyaan ini bukanlah sekadar ucapan, melainkan sebuah seruan langsung dari Allah kepada setiap individu dari kedua golongan ini, seolah-olah menempatkan kita di hadapan-Nya, untuk merenungkan nikmat-Nya.

Pertanyaan yang Berulang

Kata "آلَاءِ" (`ala`) berarti "nikmat, anugerah, atau karunia". Jadi, makna ayat ini adalah: "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Pertanyaan ini datang setelah Allah menyebutkan berbagai tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan nikmat-nikmat yang Dia berikan. Mengapa berulang begitu sering? Al-Baghawi menjelaskan bahwa pengulangan ini adalah cara orang Arab dalam berbahasa untuk mengukuhkan suatu pernyataan dan mempertegas peringatan akan nikmat. Sebagaimana seseorang yang terus-menerus mengingkari kebaikan, lantas ditanya: "Bukankah dulu kau miskin lalu aku kayakan? Apakah kau ingkari itu?"

Dalam "Dunia Wahyu" (`World of Revelation`), kita dapat membayangkan suasana saat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam membacakan Surah Ar-Rahman. Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdullah, yang dicatat oleh al-Baghawi, menyebutkan bahwa ketika Nabi membacakan surah ini dan melewati ayat ini, jin memberikan jawaban yang lebih baik dari manusia, dengan berkata, "ولا بشيء من نعمك ربنا نكذب، فلك الحمد" (Kami tidak mendustakan sedikit pun nikmat-Mu, ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji). Ini menunjukkan betapa kuatnya pertanyaan ini menggedor hati makhluk yang mendengarkannya. Bahkan Asma bint Abi Bakar mendengar Nabi ﷺ membacakannya di awal dakwah beliau, saat orang-orang musyrik Mekah masih mendengarkan dengan seksama, sebagaimana disebutkan Ibn Katsir.

Menghayati Makna

Ayat ini bukan sekadar menuntut pengakuan lisan, melainkan pengakuan yang tulus dari hati. Sayyid Qutb menekankan bahwa pertanyaan ini bertujuan untuk menegakkan bukti (`إقامة الشهادة`). Memang tidak ada manusia atau jin yang bisa benar-benar mengingkari nikmat Allah. Namun, dalam kesibukan dunia, kita sering lalai dan lupa akan karunia-Nya yang tak terhitung, dari bernapas, melihat, hingga kemampuan untuk berpikir dan beriman. Setiap kali kita mendengar ayat ini, ia seharusnya menjadi pengingat lembut, namun tajam, untuk berhenti sejenak, menilik kehidupan kita, dan bersyukur atas setiap anugerah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Sumber: al-Baghawi (Maalim al-Tanzil), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Kathir

Hikmah

`Surah Ar-Rahman` adalah surat yang mengajak kita merenungi begitu banyak nikmat Allah yang bertebaran di alam semesta, dan diulang-ulang di dalamnya ayat yang sedang kita tadabburi ini: `فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ` (`Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukadzibān`). Ayat ini secara langsung ditujukan kepada dua makhluk berakal yang Allah ciptakan, yaitu golongan jin dan manusia, sebagaimana disebutkan dalam `AYAH CONTEXT`. Allah sendirilah yang berbicara, mengingatkan dan menegur kedua golongan ini setelah menyebutkan aneka nikmat-Nya. Pertanyaan retoris ini, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?", bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menegaskan dan menuntut pengakuan dari kita semua.

Apa yang Allah Minta dari Kita?

Ayat ini adalah undangan untuk merenungkan dan mengakui segala karunia yang telah Allah anugerahkan. `آلاء` (`ālā'a`) berarti nikmat, karunia, dan kebaikan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, seperti dijelaskan oleh Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi) dan al-Saadi. Bahkan, sebagian ulama seperti Ibn Zayd, yang disebutkan oleh al-Qurtubi, menafsirkan `آلاء` sebagai `قدرة` (kekuasaan), menunjukkan bahwa setiap nikmat adalah manifestasi dari kekuasaan Allah yang tak terbatas.

Pertanyaan yang berulang ini berfungsi sebagai "titik balik" atau `change point` bagi hati kita. Ia mengajak kita untuk tidak sekadar tahu tentang nikmat-nikNya, tetapi juga mengakui, menghargai, dan mensyukurinya. Ini adalah tamparan lembut bagi kelalaian kita, mengingatkan agar kita tidak melupakan sang Pemberi nikmat. Al-Qurtubi menjelaskan, pengulangan ini berfungsi sebagai penegasan dan argumen yang kuat, seperti seseorang yang bertanya kepada temannya yang terus menerus diberi kebaikan, "Bukankah aku telah melakukan ini dan itu untukmu? Apakah kamu mengingkarinya?!"

Tanggapan yang Diinginkan

Al-Saadi dan al-Munir (Wahba al-Zuhayli) menceritakan sebuah pelajaran indah dari tanggapan jin ketika Rasulullah ﷺ membacakan surah ini kepada mereka. Setiap kali Rasulullah membaca ayat `فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ`, para jin menjawab, "Dan tidak ada satupun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Segala puji bagi-Mu."

Ini adalah contoh praktis bagi kita: ketika kita membaca atau mendengar ayat ini, kita diajak untuk memberi tanggapan serupa. Bukan hanya secara lisan, tetapi dengan hati yang penuh pengakuan dan rasa syukur.

Pelajaran untuk Kehidupan Kita

Secara umum, ayat ini mengajarkan kita sebuah kaidah Quran (`qā'idah Qur'āniyyah`) tentang pentingnya `syukur` (bersyukur) dan `i'tiraf` (mengakui) nikmat-nikmat Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali sibuk mencari apa yang belum kita miliki, hingga melupakan berlimpahnya karunia yang sudah ada.

Bagaimana kita dapat menerapkan pelajaran ini?
1. Praktik Syukur Harian: Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk mengingat dan menyebutkan nikmat-nikmat Allah, dari yang terbesar (Islam, kesehatan) hingga yang terkecil (makanan, tempat tinggal).
2. Menghindari `Kufur Nikmat`: Waspadai sikap tidak menghargai atau menggunakan nikmat Allah untuk tujuan yang tidak diridhai-Nya.
3. Memuji Allah: Biasakan lisan kita mengucapkan `Alhamdulillah` (segala puji bagi Allah) sebagai bentuk pengakuan atas keagungan-Nya.

Ayat `فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ` adalah pengingat konstan bahwa segala kebaikan dalam hidup kita berasal dari Allah, `Rabb` (`Tuhan`) yang terus-menerus memelihara dan menumbuhkembangkan kita, sebagaimana dijelaskan oleh al-Munir. Ia patut dipuji dan disyukuri, bukan didustakan.

Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Saadi (Taysir al-Karim), al-Munir (Wahba al-Zuhayli), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 8 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani