Surat Al-Baqarah Ayat 152
سُورَةُ البَقَرَةِ · Madaniyah · Ayat 152 dari 286
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
Terjemahan
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.
Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Makna dan renungan
Pilihan Kata
Ayat 2:152: Seruan Hati dari Tuhanmu
Ayat yang mulia ini datang setelah serangkaian ayat yang penuh nikmat, seperti perubahan kiblat. Seolah-olah, setelah menganugerahkan begitu banyak kebaikan dan bimbingan, Allah kini berfirman kepada orang-orang beriman: "Karena Aku telah melimpahkan nikmat-nikmat ini kepadamu, maka ini adalah perintah-Ku." Ini adalah ajakan langsung dari Allah agar kita mendekat kepada-Nya melalui tiga tindakan utama.
Mengingat-Ku, Aku Mengingatmu
Allah berfirman: فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ (fa-dhkurūnī adhkurkum), yang berarti "Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian." Mari kita telaah pilihan kata ini. Kata `dhikr` (ذِكْر) dalam bahasa Arab bukan hanya sekadar mengingat dalam pikiran, tetapi juga menyebut dengan lisan, bahkan mengingatkan diri akan perintah dan larangan Allah dalam setiap tindakan, seperti yang dijelaskan oleh Ibn Ashur dan al-Razi. `Dhikr` ini bisa dengan lisan (tasbih, tahmid, membaca Quran), dengan hati (merenungkan kebesaran dan nikmat Allah), dan dengan anggota badan (melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat).
Lalu, apa makna "Aku akan mengingat kalian" (`adhkurkum`)? Ibn Ashur menjelaskan bahwa ini adalah metafora. Allah tidak 'lupa' sehingga perlu mengingat, tetapi `adhkurkum` adalah janji-Nya untuk memperlakukan kita dengan limpahan rahmat, menambah nikmat, memberikan pertolongan, perhatian khusus di dunia, serta pahala dan peningkatan derajat di akhirat. Ini adalah janji balasan yang luar biasa: ketika seorang hamba mengingat Tuhannya, Tuhannya pun memberikan perhatian dan balasan yang tak terhingga.
Bersyukur kepada-Ku
Selanjutnya, Allah berfirman: وَٱشْكُرُوا۟ لِى (wāshkurū lī), "Dan bersyukurlah kepada-Ku." Perintah untuk bersyukur di sini mencakup syukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Ibn Ashur menyoroti penggunaan huruf `lī` (لِ), yang berarti 'kepada-Ku' atau 'untuk-Ku'. Ini menekankan bahwa rasa syukur kita harus murni dan hanya ditujukan kepada Allah semata. Syukur bukan hanya ucapan `alhamdulillah`, tetapi juga ketaatan, sebagaimana disebutkan oleh al-Jalalayn. Menggunakan nikmat yang diberikan Allah sesuai dengan kehendak-Nya adalah bentuk syukur yang paling tulus.
Jangan Kufur Nikmat
Ayat ini diakhiri dengan peringatan tegas: وَلَا تَكْفُرُونِ (wa lā takfurūnī), "Dan janganlah kalian mengingkari-Ku." Ini adalah larangan terhadap `kufrān` (كُفْرَان), yaitu mengingkari nikmat atau tidak bersyukur. Ibn Ashur menjelaskan bahwa `kufrān` memiliki tingkatan, dari yang paling parah (menolak keberadaan nikmat) hingga yang paling lemah (lalai bersyukur tanpa maksud buruk, tapi tetap sebuah kekurangan).
Perhatikan mengapa Allah secara spesifik melarang `kufrān` setelah memerintahkan `shukr`. Ibn Ashur menyatakan bahwa perintah `ushkurū` (bersyukurlah) mungkin dipahami sebagai satu tindakan, sedangkan larangan `lā takfurūnī` (janganlah kamu kufur) memiliki makna keharusan yang berkelanjutan dan menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya dituntut untuk sesekali bersyukur, tetapi untuk senantiasa menjauhi segala bentuk `kufrān` dalam setiap aspek kehidupan. Ini adalah panggilan untuk selalu berada dalam kesadaran nikmat dan ketaatan kepada Allah, Sang Pemberi Nikmat.
Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn
Dunia Al-Qur'an
Surah Al-Baqarah ayat 152 adalah panggilan langsung dari Allah kepada orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah berfirman, "فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ" (Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar). Ayat ini merupakan perintah, janji, dan peringatan yang ditujukan langsung kepada kaum mukmin.
Makna Mengingat dan Bersyukur
Perintah pertama adalah `dhikr` (mengingat Allah). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa `dhikr` bukan hanya sekadar mengucapkan kalimat pujian dengan lisan, tetapi yang terpenting adalah `dhikr` dengan hati dan anggota tubuh. Mufti Shafi menjelaskan bahwa `dhikr` yang sebenarnya melibatkan hati, sehingga mengingat Allah berarti mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Said ibn Jubayr, seperti yang dicatat oleh al-Baghawi dan al-Tabari, menafsirkan `dhikr` sebagai ketaatan kepada Allah. Seseorang yang tidak patuh, meskipun banyak shalat dan tasbih, sejatinya belum mengingat Allah. Imam al-Razi memperluas makna `dhikr` menjadi refleksi tentang bukti-bukti keesaan Allah, perintah dan larangan-Nya, serta keajaiban ciptaan-Nya.
Sebagai balasan atas `dhikr` kita, Allah berjanji akan mengingat kita (`adhkurkum`). Ini adalah janji yang agung. Ibn Abbas, seperti yang disebutkan oleh al-Baghawi, menafsirkannya sebagai Allah mengingat hamba-Nya dengan ampunan dan rahmat-Nya. Nabi Muhammad shalallah alaihi wasallam bersabda, seperti dalam riwayat Bukhari yang dikutip oleh Ibn Kathir, bahwa Allah Ta'ala berfirman, "Barang siapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barang siapa mengingat-Ku di tengah keramaian, Aku akan mengingatnya di tengah keramaian yang lebih baik dari itu." Sayyid Qutb menyoroti bahwa ketika umat Muslim mengingat Allah, Allah akan mengangkat nama mereka di seluruh alam semesta, menjadikan mereka pemimpin dunia.
Perintah kedua adalah `shukr` (bersyukur) dan larangan untuk `kufr` (ingkar). Bersyukur kepada Allah berarti mengakui nikmat-nikmat-Nya dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya. Sebaliknya, `kufr` di sini berarti ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya melalui kemaksiatan atau penolakan. Ibn Kathir mengutip Nabi Musa alaihi salam yang bertanya bagaimana cara bersyukur kepada Allah, dan Allah menjawab, "Engkau mengingat-Ku dan tidak melupakan-Ku. Jika engkau mengingat-Ku, engkau telah bersyukur kepada-Ku. Jika engkau melupakan-Ku, engkau telah kufur kepada-Ku."
Konteks Dunia Wahyu
Ayat ini turun pada fase awal pembentukan umat Islam di Madinah, setelah perubahan arah `qibla` (arah salat) dari Baitul Maqdis ke Ka'bah. Sayyid Qutb menjelaskan bahwa setelah umat Muslim diberikan identitas dan tanggung jawab besar, mereka diinstruksikan untuk mencari pertolongan melalui kesabaran dan `salat`. Perintah `dhikr` dan `shukr` ini menjadi fondasi spiritual yang vital bagi mereka untuk menghadapi tantangan besar, termasuk `jihad` (perjuangan) melawan musuh dan upaya-upaya pihak lain, seperti Yahudi, yang ingin mengembalikan umat Muslim kepada `kufr` (kekafiran). Ayat ini mengikat hati orang-orang beriman kepada Allah, memastikan mereka kuat dan tidak goyah dalam menghadapi berbagai cobaan, termasuk kerugian nyawa, harta, dan kesulitan. Dalam momen penting pembentukan komunitas Muslim yang kuat, mengingat Allah dan bersyukur atas nikmat Iman adalah kunci untuk tetap teguh.
Sumber: Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Baghawi (Maalim al-Tanzil), Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Tabari (Jami al-Bayan), Ibn Kathir
Hikmah
Ayat yang mulia ini, Surah Al-Baqarah ayat 152, adalah sebuah seruan langsung dari Allah kepada orang-orang beriman, sebuah janji yang agung, dan sebuah peringatan yang lembut. Allah Yang Maha Perkasa berfirman, "Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari-Ku."
Mengingat Allah, Ingat Pula Dirimu
Ayat ini dimulai dengan perintah `فَاذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ` (Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian). `Dhikr` (mengingat) tidak hanya berarti mengucapkan kalimat-kalimat pujian dengan lisan. Sebagaimana dijelaskan oleh `al-Qurtubi`, akar kata `dhikr` adalah `tanabbuh bil-qalb` (kesadaran dalam hati) dan `tayaqquz lahu` (kepekaan terhadap-Nya). Ucapan lisan hanyalah tanda dari `dhikr` hati. Said bin Jubair menafsirkan, "Ingatlah Aku dengan ketaatan, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan pahala dan ampunan." Bahkan, `Mufti Shafi` dalam `Ma'arif al-Quran` menyebutkan bahwa seorang sufi besar, Abu Utsman, pernah bersyukur kepada Allah bahkan ketika seseorang mengeluh `dhikr` lisannya tidak melibatkan hati, karena setidaknya satu organ tubuh telah digunakan untuk beribadah kepada Allah.
Janji Allah, `أَذْكُرْكُمْ` (Aku akan mengingat kalian), adalah balasan yang tak terhingga. Ketika seorang hamba mengingat Allah, Allah mengingatnya, dan ingatan Allah itu jauh lebih agung. `Al-Saadi` menekankan bahwa `dhikr` terbaik adalah `ma tawaata'a alaihi al-qalb wal-lisan` (apa yang disepakati oleh hati dan lisan), yang menumbuhkan ma'rifah (pengenalan) dan mahabbah (cinta) kepada Allah. Ini adalah inti dari ketaatan dan kesadaran spiritual. Mu'adz bin Jabal bahkan menyatakan bahwa tidak ada amal manusia yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah selain `dhikrullah`.
Syukur Itu Mengakui dan Beramal
Setelah perintah `dhikr`, Allah memerintahkan `وَٱشْكُرُوا۟ لِى` (Dan bersyukurlah kepada-Ku). `Shukr` (syukur) berarti mengakui kebaikan dan mengungkapkannya, baik dengan lisan maupun perbuatan. `Al-Qurtubi` menjelaskan bahwa syukur seorang hamba kepada Allah adalah pujiannya atas kebaikan Allah kepadanya. `Al-Saadi` merincinya menjadi tiga bentuk: dengan hati (mengakui nikmat), dengan lisan (memuji dan menyanjung), dan dengan anggota tubuh (menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya). Syukur bukan hanya tanda rasa terima kasih, tetapi juga jaminan untuk keberlangsungan dan peningkatan nikmat. Allah berjanji, "Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7).
Hati-hati dengan Kufur Nikmat
Akhirnya, Allah memperingatkan `وَلَا تَكْفُرُونِ` (dan janganlah kalian mengingkari-Ku). Dalam konteks ayat ini, `kufr` (kekafiran) di sini secara spesifik diartikan sebagai `kufur nikmat`, yaitu mengingkari atau menyalahgunakan nikmat Allah, bukan semata-mata tidak beriman kepada-Nya. `Al-Qurtubi` menyebutnya `satr al-ni'mah` (menutupi nikmat). `Al-Munir` menambahkan bahwa `kufur nikmat` bisa berupa menggunakan nikmat tersebut pada hal-hal yang tidak diizinkan oleh syariat atau akal sehat. Ini adalah pengingat untuk tidak melupakan sumber dari segala kebaikan dan tidak menyalahgunakan karunia-Nya.
Pelajaran umum dari ayat ini adalah bahwa hubungan kita dengan Allah dibangun di atas ingatan dan rasa syukur. Dengan mengingat-Nya dalam segala kondisi, melalui ketaatan hati dan lisan, dan dengan bersyukur atas segala nikmat-Nya, kita mengundang rahmat dan ampunan-Nya dalam hidup kita. Ini adalah ajakan untuk menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan kehadiran Ilahi dan selalu mengakui karunia-Nya.
Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Saadi (Taysir al-Karim), al-Munir (Wahba al-Zuhayli), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir)
Topik yang membahas ayat ini
Ayat ini dibahas dalam 10 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).
Renungkan ayat ini
Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.