Surat Ar-Ra'd Ayat 28

سُورَةُ الرَّعۡدِ · Madaniyah · Ayat 28 dari 43

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Terjemahan

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Merenungi firman Allah adalah perjalanan hati. Mari kita dekati ayat ini dengan kerendahan hati dan keterbukaan, agar cahayanya menerangi relung-relung jiwa kita.

Tentang Siapa Ayat Ini

Ayat 28 dari Surah Ar-Ra'd ini berbicara tentang ciri-ciri orang yang beriman: ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ (`alladheena aamanu`). Ini adalah bagian dari rangkaian ayat yang menjelaskan perbedaan antara orang-orang yang disesatkan oleh Allah karena penolakan mereka, dan orang-orang yang diberi petunjuk kepada kebenaran, yaitu mereka yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Secara spesifik, ayat ini menyoroti bagaimana hati para mukmin tersebut menemukan kedamaian.

Makna Ketenangan Sejati

Inti dari ayat ini adalah frasa `تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ` (hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah). Kata `تَطْمَئِنُّ` (`tatmainnu`) berasal dari akar kata yang berarti ketenangan, keheningan, dan kepastian, kebalikan dari kegelisahan atau keraguan. Ibn Ashur menjelaskan bahwa `اطمئنان` (`itmi'nan`) di sini merujuk pada keyakinan yang kokoh dan tidak adanya keraguan, sebab keraguan seringkali digambarkan dengan keguncangan.

Al-Razi membantu kita memahami lebih dalam dengan membedakan antara `ketenangan` (`itmi'nan`) dan `kegentaran` (`wajal`). Ketika Allah disebut, hati orang beriman bisa gentar (`wajal`) karena takut akan azab atau kekurangan dalam amal mereka, seperti yang disebutkan dalam Surah Al-Anfal. Namun, ketika disebut janji pahala dan rahmat-Nya, hati mereka menemukan ketenangan (`itmi'nan`). Keduanya tidak bertentangan; `ketenangan` datang dari keyakinan pada janji-janji Allah, sedangkan `kegentaran` muncul dari kesadaran akan dosa dan kurangnya kesempurnaan dalam ibadah.

Mengapa Pilihan Kata Ini?

Frasa `بِذِكْرِ ٱللَّهِ` (`bidhikrillah`), yang sering diterjemahkan sebagai "dengan mengingat Allah", memiliki makna yang luas di sini. Menurut Ibn Ashur, `dhikr Allah` bisa berarti:
1. Ketakutan dan pengawasan terhadap Allah, dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya.
2. Al-Quran, yang merupakan pengingat dan peringatan dari Allah. Penafsiran ini sangat relevan mengingat ayat sebelumnya (13:27) dimana orang-orang kafir menuntut tanda lain selain Al-Quran. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran sendiri adalah `dhikr` yang cukup untuk menenangkan hati.
3. Zikir lisan, yaitu menyebut nama Allah dengan lidah, yang membangunkan hati untuk senantiasa mengawasi-Nya.

Pilihan bentuk kata kerja `تَطْمَئِنُّ` (`tatmainnu`) yang bersifat `mudhari'` (masa kini dan akan datang) menunjukkan bahwa ketenangan ini bukan peristiwa sesaat, melainkan suatu keadaan yang terus-menerus diperbarui dan berkesinambungan bagi orang-orang beriman. Ini adalah ketenangan yang tidak disela oleh keraguan atau kegelisahan.

Pesan yang Digemakan

Bagian kedua dari ayat ini mengulang kembali pesan utama dengan penekanan yang kuat: `أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ`. Kata `أَلَا` (`ala`) berfungsi sebagai penanda perhatian, sebuah seruan untuk menyadarkan dan menekankan pentingnya pernyataan yang mengikutinya. Ini bagaikan seruan yang mengatakan, "Perhatikanlah baik-baik!"

Perhatikan pula perubahan dari `قُلُوبُهُم` (hati *mereka*, merujuk pada orang beriman) menjadi `ٱلْقُلُوبُ` (hati *secara umum*). Ibn Ashur menjelaskan bahwa penggunaan `الـ` (`al`) pada `القلوب` menggeneralisasi pernyataan ini. Ini bukan hanya untuk hati orang-orang beriman yang disebutkan sebelumnya, tetapi sebuah kebenaran universal: *semua* hati, siapapun itu, hanya akan menemukan ketenangan sejati melalui `dhikr Allah`. Ini adalah undangan bagi siapapun yang sedang mencari kedamaian, menunjukkan bahwa sumber ketenangan ilahi itu tersedia bagi semua yang mau mencarinya.

Source: Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Muyassar.

Sumber: Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Dunia Al-Qur'an

Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang menenangkan jiwa, Surah Ar-Ra'd ayat 28 ini berbicara langsung kepada hati kita. Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Ayat ini berbicara tentang mereka yang telah beriman dan bagaimana hati mereka menemukan ketenangan melalui zikir atau mengingat Allah. Ini adalah sebuah ajakan untuk merenung, yang datang dari Allah langsung, menegaskan bahwa sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Mengenali Pendengar Pertama

Saat ayat ini pertama kali diturunkan, ia langsung menyapa para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Dalam tafsirnya, Imam al-Tabari menyebutkan bahwa ulama seperti Mujahid dan Sufyan bin Uyaynah menafsirkan `الْقُلُوبُ` (hati) di sini secara spesifik merujuk kepada hati Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Bayangkan kondisi mereka saat itu, menghadapi berbagai tantangan, penolakan, dan kesulitan dalam menyebarkan Islam di Makkah. Ayat ini datang sebagai penenang, sebuah konfirmasi dari Tuhan bahwa di tengah segala gejolak dunia, ada sumber ketenangan abadi bagi mereka yang beriman. Seperti yang Sayyid Qutb gambarkan, hati yang beriman akan merasa aman dan tenteram, terlepas dari kesulitan atau pertanyaan tentang alam semesta, karena mereka tahu bahwa mereka berada di bawah perlindungan Allah. Ini bukan sekadar teori, melainkan pengalaman hidup para sahabat yang dibimbing langsung oleh wahyu.

Hati yang Tenteram

Allah menjelaskan bahwa hati orang-orang beriman itu `تَطْمَئِنُّ` (`tatma'innu`), yaitu menjadi tenteram, tenang, dan damai dengan mengingat Allah (`بِذِكْرِ ٱللَّهِ`). Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa `طمأنينة` (ketenangan) ini berarti hati menjadi baik, condong kepada Allah, menetap pada ingatan-Nya, dan merasa puas dengan-Nya sebagai Pelindung dan Penolong. Ketenangan ini sangat berbeda dengan perasaan `وجل` (ketakutan atau kegentaran) yang juga kadang dirasakan oleh orang beriman, seperti yang disebut dalam Surah Al-Anfal ayat 2. Imam al-Baghawi dan al-Razi menjelaskan bahwa `وجل` timbul saat mengingat keadilan Allah dan hukuman-Nya, sementara `طمأنينة` hadir saat mengingat rahmat, janji, dan pahala-Nya. Keduanya bukan saling bertentangan, melainkan dua sisi dari respons hati seorang mukmin terhadap kebesaran Allah.

Hukum Universal Hati

Bagian akhir ayat, `أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ` (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram), adalah pernyataan universal. Imam al-Razi memberikan refleksi mendalam mengenai fitrah hati manusia. Ia menjelaskan bahwa ketika hati terlalu fokus pada hal-hal duniawi (`عالم الأجسام`), ia akan mengalami kegelisahan dan ketidaktenangan. Namun, ketika hati berbalik menuju Hadirat Ilahi (`الحضرة الإلهية`), ia akan menerima cahaya ketuhanan dan menemukan ketenangan sejati. Ini karena kenikmatan duniawi bersifat sementara dan akan selalu membuat hati mencari yang lebih, sedangkan kebahagiaan yang didapat dari pengetahuan dan cahaya ilahi bersifat abadi, tanpa tingkatan yang lebih tinggi lagi untuk dicari. Inilah janji dari Pencipta hati, sebuah kebenaran universal yang melampaui waktu dan tempat.

Oleh karena itu, bagi setiap pembaca, ayat ini adalah pengingat bahwa di tengah segala hiruk pikuk kehidupan, solusi untuk kegelisahan dan kegalauan hati adalah kembali kepada sumber ketenangan yang tak terbatas: mengingat Allah.

Sumber: al-Tabari (Jami al-Bayan), al-Baghawi (Maalim al-Tanzil), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Kathir, Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran)

Koneksi

Bismillah. Dengan kerendahan hati dan kekaguman akan kalam Allah, mari kita merenungkan Surah Ar-Ra'd ayat 28 ini, membuka hati kita agar firman-Nya membentuk dan membimbing kita.

Sumber Ketenangan Sejati

Ayat ini berbicara tentang mereka yang beriman, yang hati mereka menemukan kedamaian dan ketenteraman dalam mengingat Allah. Allah berfirman: `ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ` (Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram). Subhanallah, di sini Allah berbicara langsung kepada kita, para orang beriman, tentang sumber ketenangan hakiki.

Kata `dhikr Allah` (ذِكْرِ ٱللَّهِ) atau "mengingat Allah" di sini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Tantawi, memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya merujuk pada tasbih atau tahlil lisan, tetapi juga mencakup perenungan Al-Qur'an, yaitu firman Allah yang penuh mukjizat, dan kesadaran akan perintah serta larangan-Nya. Ketenangan hati (`tatma'inn`, تَطْمَئِنُّ) yang disebutkan dalam bentuk kata kerja `mudhari'` (masa kini dan mendatang) menunjukkan bahwa ketenteraman ini bersifat terus-menerus dan tidak terputus, tanpa ada keraguan atau kebimbangan, sebagai tanda keimanan yang kokoh, seperti yang ditunjukkan oleh al-Biqa'i. Penggunaan `ala` (أَلَا) di awal kalimat berfungsi sebagai alat penarik perhatian, semacam "Ingatlah!" atau "Perhatikanlah!", untuk menekankan pentingnya pesan ini.

Ayat Ini dalam Jalinan Surah Ar-Ra'd

Untuk memahami kedalaman ayat ini, kita perlu melihat bagaimana ia terhubung dengan ayat-ayat di sekelilingnya, bagaikan mutiara dalam seuntai kalung. Imam al-Sabuni menjelaskan bahwa ayat ini datang setelah Allah menyebutkan dua jenis seruan: seruan kebenaran dan seruan kebatilan. Kemudian, Allah memberikan perumpamaan yang indah tentang air hujan yang mengalir di lembah, membawa buih, dan logam yang dilebur, juga menghasilkan ampas. Air murni dan logam mulia yang bermanfaat akan tetap ada, sedangkan buih dan ampas yang tak berguna akan lenyap.

Ayat 28 ini kemudian menjelaskan *siapa* yang merespons seruan kebenaran itu. Mereka adalah orang-orang yang beriman, yang hatinya menemukan kedamaian dalam mengingat Allah. Ini adalah kebalikan dari orang-orang kafir yang terus-menerus meminta mukjizat fisik dan menolak Al-Qur'an sebagai bukti. Allah Maha Mengetahui siapa yang tersesat dan siapa yang kembali kepada-Nya (`yahdi ilayhi man anab`, Allah membimbing kepada-Nya siapa yang kembali). Ayat ini menggambarkan ciri khas mereka yang kembali, yaitu mereka yang hatinya tenteram dengan `dhikr Allah`.

Lebih lanjut, ayat ini juga merupakan puncak dari serangkaian sifat `ulu al-albab` (أولو الألباب), yaitu orang-orang yang berakal sehat, yang disebutkan dalam ayat 19 hingga 27. Allah menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang memenuhi janji-Nya, menjaga tali silaturahim, takut kepada Allah, takut hisab yang buruk, sabar mencari ridha Allah, mendirikan shalat, berinfak, dan membalas keburukan dengan kebaikan. Ketenangan hati yang disebutkan dalam ayat 28 ini adalah hasil dan buah dari seluruh amal saleh serta sifat-sifat mulia tersebut.

Ketenangan Hati: Antara Harapan dan Takut

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa hati tenteram dengan mengingat Allah, padahal di ayat lain (misalnya Surah Al-Anfal ayat 2), Allah menyebutkan bahwa hati orang beriman bergetar (takut) ketika nama Allah disebut? Imam Tantawi menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan di sini. Getaran hati terjadi ketika mengingat ancaman dan azab Allah, karena takut akan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Sementara ketenangan hati datang ketika mengingat janji, rahmat, dan pahala Allah, yang menimbulkan harapan dan kepercayaan penuh kepada-Nya. Keduanya adalah respons yang sehat dari hati seorang mukmin.

Singkatnya, ayat ini adalah pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk dunia, sumber ketenangan yang abadi dan sejati hanya ditemukan dalam hubungan kita dengan Allah, melalui mengingat-Nya dalam segala bentuk, dan menjalankan tuntunan-Nya.

Sumber: al-Wasit (Tantawi), al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)

Hikmah

Surah Ar-Ra'd ayat 28 mengajak kita untuk merenungi sebuah kebenaran mendalam tentang hati manusia dan sumber ketenangannya. Ayat ini berbicara tentang orang-orang beriman, yang dengannya hati mereka menemukan kedamaian yang sejati.

Hati yang Beriman

Ayat ini berbicara tentang "ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟" (orang-orang yang beriman), yang berarti mereka yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, serta tunduk pada perintah-Nya. Bagi kelompok inilah Allah menjanjikan petunjuk dan ketenangan. Suara yang kita dengar dalam ayat ini adalah firman langsung dari Allah, yang menjelaskan sifat dan imbalan bagi hamba-hamba-Nya yang mukmin. Situasinya adalah pernyataan yang menghibur dan meneguhkan, menunjukkan jalan menuju kedamaian batin.

Apa Itu `Dzikrullah`?

Inti dari ketenangan hati yang disebutkan dalam ayat ini adalah "بِذِكْرِ ٱللَّهِ" (dengan mengingat Allah). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa `dhikr Allah` tidak hanya berarti menyebut nama Allah dengan lisan. Al-Qurtubi dan Ibn al-Jawzi menyatakan bahwa ini bisa mencakup membaca Al-Qur'an, mengingat perintah Allah, janji-Nya, karunia dan nikmat-Nya, atau merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya untuk menyadari kesempurnaan kuasa-Nya. Al-Saadi menambahkan bahwa `dhikr` adalah ekspresi dari cinta kepada Pencipta, merasa dekat dengan-Nya, dan mengenal-Nya. Hati akan merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tak tertandingi dalam cinta dan pengenalan akan Allah.

Ketenangan Hati

Ketenangan yang dimaksud dengan "تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ" (hati mereka menjadi tenang) berarti hati menjadi tenteram, damai, dan terbebas dari kegelisahan serta kekhawatiran. Ibn al-Jawzi menjelaskan bahwa ketenangan ini adalah cinta dan rasa nyaman kepada Allah, tanpa ada keraguan sedikit pun. Ketenangan ini berlawanan dengan hati orang-orang kafir yang justru menjauh dan merasa tidak nyaman ketika nama Allah disebut. Wahba al-Zuhayli menyoroti bahwa hati yang beriman akan tenang dengan tauhid (keesaan Allah) dan janji-Nya, bersandar dan berharap hanya kepada-Nya, karena cahaya iman telah bersemayam di dalamnya. Ini adalah ketenangan yang datang dari keyakinan dan ilmu yang kokoh, sebagaimana dijelaskan oleh al-Saadi, yang hanya ditemukan sepenuhnya dalam Kitabullah (Al-Qur'an).

Pelajaran untuk Kita

Ayat ini mengajarkan kita sebuah prinsip universal dan abadi: "أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ" (Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram). Ini adalah maksim Qur'ani (`qawā'id Qur'āniyyah`) yang mengingatkan kita bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, kegelisahan, atau ketidakpastian, sumber ketenangan sejati bukanlah pada hal-hal duniawi, tetapi pada ikatan kita dengan Allah.

Pelajaran praktisnya bagi kita adalah untuk senantiasa memperbanyak `dhikr` dalam segala bentuknya. Ini bisa berupa shalat, membaca dan merenungkan Al-Qur'an, bertasbih, bertahmid, bertakbir, atau sekadar mengingat keagungan dan rahmat Allah dalam setiap situasi. Ketika kita menghadapi kesulitan, cobaan, atau rasa cemas, kita diajak untuk kembali kepada Allah, karena hanya pada-Nya hati akan menemukan kedamaian yang sejati dan abadi. Ini adalah undangan untuk membentuk hati yang senantiasa terhubung dengan Ilahi, agar kita dapat menjalani hidup dengan keyakinan, harapan, dan ketenangan yang dijanjikan.

Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Saadi (Taysir al-Karim), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Munir (Wahba al-Zuhayli)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 15 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani