Surat Az-Zumar Ayat 23

سُورَةُ الزُّمَرِ · Makkiyah · Ayat 23 dari 75

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًۭا مُّتَشَٰبِهًۭا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

Terjemahan

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alquran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Saudaraku, mari kita renungkan Surah Az-Zumar ayat 23 ini dengan hati yang rendah dan terbuka. Ayat ini berbicara tentang keagungan Al-Qur'an dan bagaimana ia memengaruhi hati orang-orang yang beriman.

Sumber Kalam Ilahi

Ayat ini dimulai dengan penegasan, `ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ` (Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik). Penempatan lafazh `Allah` di awal kalimat, sebelum kata kerja `nazala` (menurunkan), sangat ditekankan oleh para ulama seperti Az-Zamakhshari dan Ibn Ashur. Ini bukan sekadar tata bahasa, melainkan sebuah penegasan kuat bahwa *hanya Allah* lah yang menurunkan `أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ` (`ahsan al-hadith`), yaitu Al-Qur'an. Ini menunjukkan betapa istimewanya Kalamullah ini, dan secara tidak langsung membantah klaim bahwa ia adalah buatan manusia. `Al-Hadith` di sini, seperti dijelaskan Ibn Ashur, berarti kabar atau ucapan yang mencakup makna-makna bermanfaat, prinsip-prinsip iman dan syariat, serta keindahan bahasa dan kemukjizatannya. Ini adalah perkataan terbaik yang tak tertandingi.

Sifat-sifat Al-Qur'an yang Mengagumkan

Kemudian Al-Qur'an digambarkan sebagai `كِتَٰبًۭا مُّتَشَٰبِهًۭا مَّثَانِىَ` (sebuah Kitab yang serupa (konsisten), lagi berulang-ulang).
Kata `كِتَٰبًۭا` (`kitaban`, sebuah Kitab) menunjukkan pentingnya Al-Qur'an sebagai kumpulan firman yang ditujukan untuk dibaca, dipahami, dan dijaga, sebagaimana dicatat Ibn Ashur.
`مُّتَشَٰبِهًۭا` (`mutashabihan`) di sini, menurut Az-Zamakhshari dan Ibn Ashur, bermakna bahwa bagian-bagiannya saling menyerupai dalam kesempurnaan, keindahan susunan, kekokohan makna, dan kebenaran. Ini bukanlah "ayat mutasyabihah" yang maknanya ambigu, melainkan kesamaan dalam kualitas mukjizat dan konsistensi. Al-Razi menambahkan bahwa Al-Qur'an serupa dalam kefasihan setiap bagiannya, konsistensi cerita yang berulang, dan tujuan utamanya yaitu mengajak kepada keesaan Allah.
Adapun `مَّثَانِىَ` (`mathaniya`), Az-Zamakhshari dan Ibn Ashur menjelaskan bahwa ini berarti `مُكَرَّر` (yang diulang-ulang). Di dalamnya terdapat pengulangan kisah, hukum, janji, ancaman, dan nasihat. Mahmud Safi menjelaskan hikmah pengulangan ini: hati manusia cenderung enggan terhadap nasihat. Oleh karena itu, pengulangan berfungsi untuk menanamkan dan menguatkan pesan-pesan tersebut dalam jiwa, agar nasihat itu benar-benar meresap dan berbekas. Ibn Ashur menambahkan bahwa pengulangan ini membuat tujuan Al-Qur'an semakin kokoh dalam jiwa, dan merupakan salah satu aspek kemukjizatannya, yaitu tidak menimbulkan kebosanan, melainkan menambah rasa manis dan penerimaan setiap kali didengar.

Reaksi Hati yang Beriman

Ayat ini kemudian menjelaskan bagaimana Al-Qur'an memengaruhi orang-orang yang takut kepada Allah: `تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ` (Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka gemetar karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak kepada mengingat Allah).
`تَقْشَعِرُّ` (`taqsha'irru`) adalah gambaran fisik dari rasa takut yang sangat mendalam, seperti merinding atau bulu kuduk berdiri, saat mereka mendengar ayat-ayat peringatan dan ancaman dari Al-Qur'an. Ini adalah kiasan untuk ketakutan dan kekaguman yang luar biasa di dalam hati, seperti dijelaskan Az-Zamakhshari dan Ibn Ashur. Mahmud Safi menyebutnya "penggambaran hidup" dari rasa takut.
Lalu datang `ثُمَّ تَلِينُ` (`thumma talīnu`, kemudian melunak), menunjukkan transisi. Setelah ketakutan itu, ketika ayat-ayat yang berisi rahmat, janji, dan kabar gembira dibacakan, kulit dan hati mereka menjadi lunak. Az-Zamakhshari dan Ibn Ashur menjelaskan bahwa rasa takut (yang berpusat di hati) pada awalnya memengaruhi kulit. Namun, ketika `ذِكْرِ ٱللَّهِ` (`dzikrillah`, mengingat Allah), yang merujuk pada kasih sayang dan janji-Nya, disebutkan, hati menjadi tenang dan lembut, dan kelembutan ini pun terlihat pada kulit. Penggunaan kata `إِلَىٰ` (`ila`) dengan `talīnu` mengindikasikan bahwa hati menjadi tenang dan tenteram karena zikirullah. Al-Razi juga menyoroti bahwa disebutkannya `dzikrillah` tanpa `rahmatillah` (rahmat Allah) menunjukkan tingkat cinta yang lebih tinggi, yaitu mencintai Allah karena Dzat-Nya, bukan semata-mata karena rahmat-Nya.

Hidayah dari Allah

Ayat ini ditutup dengan `ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ` (Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk).
Kata `ذَٰلِكَ` (`dhalika`, itu) merujuk pada keseluruhan sifat-sifat Al-Qur'an dan respons orang-orang beriman terhadapnya, menunjukkan bahwa semua ini adalah wujud dari petunjuk sempurna Allah, seperti yang dijelaskan Ibn Ashur. Petunjuk ini diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, yaitu mereka yang hati dan akalnya siap menerima hidayah. Sebaliknya, bagi mereka yang Allah sesatkan karena kekufuran dan penolakan mereka, tidak ada lagi yang bisa memberi mereka petunjuk. Ibn Ashur menegaskan bahwa ini adalah akibat dari kekurangan pada diri orang yang sesat, bukan karena kekurangan pada Kitab itu sendiri yang hakikatnya adalah petunjuk.

Inilah keindahan Al-Qur'an, sebuah Kalamullah yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menggetarkan jiwa dengan peringatan-Nya dan menenteramkan hati dengan janji-janji rahmat-Nya, menjadi lentera bagi mereka yang bersedia dibimbing.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Jalalayn, al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Dunia Al-Qur'an

Surah Az-Zumar ayat 23 mengundang kita merenungi kemuliaan Al-Qur'an, Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah cerminan tentang bagaimana wahyu Ilahi ini seharusnya menyentuh hati manusia.

Kalamullah yang Terbaik

Allah Yang Maha Agung berfirman bahwa Dia-lah yang menurunkan "أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ" (ahsan al-hadith), yaitu sebaik-baik perkataan. Mufti Shafi menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah perkataan paling fasih dan paling indah di antara semua yang diucapkan atau diriwayatkan manusia. Ini adalah kitab yang menjadi sumber petunjuk yang tak tertandingi.

Ayat-ayat yang Harmonis dan Berulang

Al-Qur'an disebut "كِتَٰبًۭا مُّتَشَٰبِهًۭا مَّثَانِىَ" (`kitaban mutashabihan mathaniya`). `Mutashabih` berarti serupa satu sama lain, atau harmonis dan konsisten. Ibn Kathir dan al-Baghawi menerangkan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an saling membenarkan dan tidak ada kontradiksi di dalamnya. Al-Razi menambahkan bahwa kesamaan ini juga terletak pada keindahan bahasa dan isinya, yang seluruhnya mengarah pada dakwah kepada agama dan penetapan keagungan Allah.

Adapun `mathani`, berarti diulang-ulang. Al-Baghawi menjelaskan bahwa ini merujuk pada pengulangan janji dan ancaman, perintah dan larangan, kisah-kisah dan hukum-hukum. Pengulangan ini, seperti yang disebutkan Mufti Shafi, berfungsi agar suatu materi pelajaran mendalam dalam benak seseorang. Al-Razi melihat pengulangan ini juga dalam pasangan-pasangan konsep, seperti surga dan neraka, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu selain Allah memiliki pasangannya.

Respon Hati yang Hidup

Ayat ini kemudian menggambarkan dampak mendalam Al-Qur'an pada orang-orang yang berhati hidup: "تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ". Artinya, kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka menggigil karena mendengar Al-Qur'an, lalu kulit dan hati mereka melunak menuju mengingat Allah.

Ini adalah gambaran yang hidup tentang `dunia wahyu` yang dirasakan oleh pendengar pertama, para Sahabat Nabi ﷺ. Mufti Shafi dan al-Baghawi meriwayatkan dari Sayyidah Asma binti Abu Bakar bahwa ini adalah keadaan emosional yang umum di kalangan para Sahabat ketika Al-Qur'an dibacakan. Saat mendengar ayat-ayat ancaman, tubuh mereka bergidik ketakutan, rambut kuduk mereka berdiri. Namun, ketika ayat-ayat rahmat dan ampunan dibacakan, hati mereka melunak, dipenuhi harapan, dan tubuh mereka menjadi tenang, kembali mengingat Allah dengan penuh kelembutan. Sayyid Qutb menggambarkannya sebagai "situasi yang hidup dan sensitif". Para ulama seperti Qatadah dan Ibn Umar juga menekankan bahwa reaksi ini adalah ekspresi ketakutan dan harapan yang tulus, bukan pingsan atau tindakan yang berlebihan yang dianggap berasal dari setan.

Hidayah dari Allah

Ayat ini diakhiri dengan menegaskan bahwa "ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ" (itulah petunjuk Allah, Dia memberi petunjuk dengan itu kepada siapa yang Dia kehendaki). Petunjuk ini adalah karunia dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih untuk menerima dan meresapi kebenaran Al-Qur'an. Ini juga menjadi peringatan bahwa "وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ" (dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk). Hidayah ini bergantung pada kesiapan hati dan kehendak Allah, yang mana Allah Maha Mengetahui hati mana yang siap menerima cahaya-Nya, seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Qutb.

Sumber: Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Baghawi (Maalim al-Tanzil), Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran), Ibn Kathir, al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Koneksi

Saudaraku yang mencari kedalaman, mari kita bersama-sama merenungkan Surah Az-Zumar ayat 23 ini dengan hati yang rendah dan terbuka. Ayat ini adalah cerminan dari kemuliaan Kitabullah, Al-Quran, dan bagaimana ia semestinya menyentuh jiwa kita.

Al-Quran: Perkataan Terbaik

Ayat ini dimulai dengan firman Allah, `Allah nazzala ahsana al-hadith` (Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik), yaitu Al-Quran. Ini adalah penegasan agung dari Sang Pencipta sendiri tentang keistimewaan wahyu-Nya. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Sabuni, permulaan dengan nama Allah dan penisbatan penurunan Al-Quran kepada-Nya, `nazzala`, adalah bentuk pengagungan yang luar biasa terhadap Kitab ini.

Selanjutnya, Al-Quran disebut sebagai `kitaban mutashabihan` (Kitab yang serupa). Ini berarti Al-Quran memiliki keseragaman dalam segala aspeknya, baik dalam kefasihan bahasanya, kedalaman maknanya, maupun keindahan penyampaiannya. Al-Wasit menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi atau perbedaan di dalamnya, bahkan setelah diturunkan secara bertahap selama lebih dari dua puluh tahun.

Keterkaitan Makna yang Berulang

Ayat ini kemudian menambahkan bahwa Al-Quran adalah `mathaniya`. Kata ini bermakna "yang diulang-ulang" atau "berpasangan". Dalam Al-Quran, kisah-kisah, peringatan, hukum, dan janji sering kali diulang dalam berbagai bentuk dan konteks.

Mengapa pengulangan ini? Imam al-Biqa'i menjelaskan bahwa jiwa manusia cenderung enggan terhadap nasihat dan peringatan. Maka, pengulangan diperlukan agar pesan itu meresap dan mengakar kuat dalam hati. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri sering mengulang nasihatnya hingga tiga kali. Namun, Al-Quran memiliki keistimewaan tersendiri. Meskipun diulang, ia tidak pernah membosankan; sebaliknya, justru semakin menambah kelezatan bagi mereka yang merenunginya. Al-Biqa'i juga menyoroti aspek `mathaniya` sebagai "berpasangan", di mana Al-Quran sering menyajikan hal-hal yang berlawanan seperti mukmin dan kafir, surga dan neraka, rahmat dan azab, untuk memberikan gambaran yang lengkap.

Respon Hati yang Tulus

Ayat ini kemudian menggambarkan reaksi hati orang-orang beriman terhadap Al-Quran: `taqsha'irru minhu juludu allatheena yakhshawna rabbahum thumma talinu juluduhum waqulubuhum ila dhikri Allahi` (Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka meremang karenanya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi lunak kepada mengingat Allah).

Reaksi meremangnya kulit terjadi saat mereka mendengar ayat-ayat yang berisi ancaman atau peringatan dari Allah, menimbulkan rasa takut dan gentar. Kemudian, ketika ayat-ayat rahmat, ampunan, dan janji kebaikan dibacakan, hati dan kulit mereka melunak, dipenuhi harapan dan ketenangan. Imam al-Wasit dan al-Sabuni sepakat bahwa ini adalah tanda keseimbangan antara takut dan harap dalam diri seorang mukmin. Ini adalah sifat sejati para kekasih Allah, bukan reaksi berlebihan seperti pingsan, yang menurut Qatadah (dikutip oleh al-Wasit) merupakan ciri ahli bid'ah dan dari setan.

Petunjuk Ilahi

Ayat ini menyimpulkan dengan `Dhalika huda Allahi yahdi bihi man yashaa wa man yudhlili Allahu fama lahu min had` (Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya).

Koneksi di sini sangat mendalam. Al-Quran adalah sumber hidayah itu sendiri. Kemampuan hati untuk merespons Al-Quran dengan ketakutan dan harapan adalah buah dari hidayah Allah. Ini adalah tema yang berulang dalam Al-Quran, seperti yang dicatat oleh Imam al-Shinqiti, yang merujuk pada ayat serupa di Surah An-Nahl (16:37). Ayat ini menegaskan bahwa pada akhirnya, hidayah dan kesesatan berada dalam kekuasaan Allah, yang memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki berdasarkan pilihan dan keengganan hamba-Nya. Imam al-Biqa'i bahkan melihat ayat ini sebagai penolakan terhadap pandangan Qadariyyah yang terlalu menekan kehendak bebas manusia tanpa mengakui takdir ilahi. Ayat ini juga sering dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang hati yang keras (seperti yang diisyaratkan oleh al-Sabuni), menunjukkan kontras antara mereka yang menerima Al-Quran sebagai petunjuk dan mereka yang menolaknya, sehingga hati mereka tetap keras.

Sumber: al-Wasit (Tantawi), al-Shinqiti (Adwa al-Bayan), al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)

Hikmah

Ayat 23 dari Surah Az-Zumar adalah gambaran indah tentang Al-Quran dan dampaknya pada hati yang beriman. Allah yang Maha Tinggi berbicara langsung, memperkenalkan Kitab-Nya sebagai sesuatu yang luar biasa, dirancang untuk menyentuh jiwa dan membimbing menuju kebenaran. Ayat ini menyusul pembahasan tentang hati yang keras terhadap peringatan Allah, menunjukkan kontras dengan mereka yang menerima petunjuk.

Keunggulan Firman Allah

Allah menyatakan, `ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ` (`Allahu nazzala ahsan al-hadith`), bahwa Dia telah menurunkan "sebaik-baik perkataan" yaitu Al-Quran. Para ulama seperti Mufti Shafi dan al-Qurtubi menjelaskan bahwa ini berarti Al-Quran adalah ucapan yang paling fasih, paling jernih, dan paling agung di antara segala ucapan. Ia adalah kitab yang `مُتَشَٰبِهًۭا` (`mutashabihan`), yang berarti bagian-bagiannya saling menyerupai dan mengkonfirmasi satu sama lain dalam keindahan dan hikmah, bebas dari kontradiksi, seperti yang dijelaskan oleh al-Saadi dan al-Munir. Ini menunjukkan kesempurnaan dan kesatuan pesannya.

Hikmah Pengulangan

Al-Quran juga digambarkan sebagai `مَّثَانِىَ` (`mathani`), yang berarti berulang. Kisah-kisah, peringatan, janji, dan hukum-hukumnya diulang-ulang. Al-Saadi mengumpamakan ini seperti air bagi pohon, yang membutuhkan siraman berulang untuk tumbuh dan berbuah. Pengulangan ini bukan tanpa tujuan, tetapi untuk mengukuhkan makna dalam hati dan pikiran, memastikan pesan-pesan penting meresap dalam diri pendengar yang beragam, seperti yang diutarakan oleh Ibn al-Jawzi. Ini membantu kita untuk terus-menerus diingatkan dan dinutrisi secara spiritual.

Respon Hati yang Beriman

Kemudian ayat ini menggambarkan bagaimana Al-Quran mempengaruhi hati yang beriman: `تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ`. Kulit mereka "menggigil" atau merinding saat mendengar ancaman dan peringatan dari Allah, lalu "melunak" kulit dan hati mereka menuju kepada `ذِكْرِ ٱللَّهِ` (`dhikrillah`, mengingat Allah) saat mendengar janji rahmat dan ampunan. Mufti Shafi, al-Qurtubi, dan al-Munir menekankan bahwa ini adalah respons yang tulus, mencerminkan rasa takut akan azab dan harapan akan rahmat-Nya. Asma binti Abu Bakar meriwayatkan bahwa inilah keadaan para Sahabat Nabi: mata mereka berlinang air mata dan kulit mereka merinding. Ini adalah titik perubahan spiritual, di mana hati tergerak oleh kebesaran Allah.

Jalan Menuju Hidayah

Ayat ini menyimpulkan dengan `ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِي بِهِۦ مَن يَشَآءُ` (`dhalika huda Allah yahdi bihi man yasha`), yaitu "Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya." Ini adalah pengingat bahwa Al-Quran adalah sumber hidayah ilahi, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang Allah kehendaki untuk dibimbing, yaitu mereka yang tulus mencari kebenaran dengan hati yang terbuka.

Pelajaran untuk Kita

Pelajaran umum dari ayat ini adalah pentingnya mendekati Al-Quran dengan hati yang ikhlas dan terbuka. Ia bukan sekadar teks, melainkan firman yang hidup yang mampu menggetarkan dan melembutkan hati. Ketika kita mendengarkan atau membaca Al-Quran, kita harus membiarkan ia memahat emosi kita, menimbulkan rasa takut yang sehat akan konsekuensi dosa, sekaligus menumbuhkan harapan mendalam akan rahmat Allah. Respons emosional yang tulus ini adalah tanda penerimaan terhadap petunjuk, sebuah undangan untuk lebih mendalami dan mengamalkan ajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Penting juga untuk diingat, sebagaimana diperingatkan oleh Ibn Umar dan Ibn Sirin yang dikutip dalam al-Qurtubi dan Ibn al-Jawzi, bahwa respons ini seharusnya alami dan tulus, bukan reaksi berlebihan yang dibuat-buat.

Sumber: Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), al-Saadi (Taysir al-Karim), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Munir (Wahba al-Zuhayli)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 10 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani