Surat Al-Baqarah Ayat 5
سُورَةُ البَقَرَةِ · Madaniyah · Ayat 5 dari 286
أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًۭى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Terjemahan
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Makna dan renungan
Pilihan Kata
Ayat kelima dari Surah Al-Baqarah ini, أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًۭى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ, menutup deskripsi tentang orang-orang bertakwa yang telah disebutkan sebelumnya, dengan mengumumkan ganjaran dan kedudukan mulia mereka di sisi Allah. Ayat ini secara langsung ditujukan kepada mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut, dengan nada penguatan, pujian, dan janji agung.
Mereka Itu: Penegasan yang Kuat
Firman Allah dibuka dengan `ūlā'ika` (أُو۟لَٰٓئِكَ), kata tunjuk yang berarti "mereka itu". Ibn Ashur menjelaskan bahwa penggunaan kata tunjuk setelah serangkaian sifat yang agung (seperti beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menafkahkan rezeki, beriman kepada wahyu, dan yakin pada akhirat) membuat mereka yang digambarkan itu seolah-olah hadir dan tampak di hadapan kita. Kata tunjuk ini lebih kuat daripada sekadar kata ganti, karena ia merangkum semua sifat mulia sebelumnya, menunjukkan bahwa sifat-sifat itulah yang menjadi landasan bagi karunia agung yang akan mereka terima.
Berpijak di Atas Petunjuk
Selanjutnya, Allah berfirman, `'alā hudā` (عَلَىٰ هُدًۭى), yang berarti "di atas petunjuk". Kata `alā` (على) biasanya berarti "di atas", dan para ulama seperti Ibn Ashur, al-Zamakhshari, dan al-Razi menjelaskan bahwa ini adalah sebuah `tamthīl` (perumpamaan atau gambaran figuratif) yang sangat kuat. Ia menggambarkan keadaan orang-orang bertakwa yang begitu mantap dan kokoh dalam petunjuk, seolah-olah mereka menungganginya dan sepenuhnya menguasainya. Ini bukan hanya menerima petunjuk, tetapi benar-benar menjadikannya pijakan hidup, mengarahkannya, dan tidak pernah terpisah darinya.
Lalu, kata `hudā` (هُدًۭى) digunakan dalam bentuk `nakirah` (tidak tertentu), tanpa `al-` di depannya. Seperti yang dicatat oleh al-Jadwal dan al-Razi, ini memberikan makna `tafkhīm` (pengagungan), menunjukkan bahwa ini adalah "suatu" petunjuk yang luar biasa, yang keagungannya sulit dijangkau dan nilainya tak terukur.
Petunjuk dari Tuhan Mereka
Allah melanjutkan dengan `min Rabbihim` (مِّن رَّبِّهِمْ), yang berarti "dari Tuhan mereka". Penjelasan ini, seperti ditafsirkan oleh Ibn Ashur dan al-Zamakhshari, meninggikan dan memuliakan petunjuk tersebut. Ini menegaskan bahwa petunjuk istimewa ini bukan berasal dari manusia, melainkan langsung dari Allah, Tuhan yang memelihara dan mengasuh mereka. Penggunaan nama `Rabb` (Tuhan) yang dihubungkan dengan kata ganti "mereka" (`him`) juga menunjukkan perhatian dan penjagaan khusus Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Mereka Itu, Benar-benar Orang yang Beruntung
Pada bagian kedua ayat, Allah berfirman, `wa ūlā'ika hum al-muflihūn` (وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ), yang berarti "dan mereka itu, merekalah orang-orang yang beruntung". Pengulangan `ūlā'ika` (أُو۟لَٰٓئِكَ) yang kedua, seperti disoroti Ibn Ashur dan al-Zamakhshari, adalah untuk menegaskan bahwa baik petunjuk di dunia (`hudā`) maupun keberuntungan di akhirat (`falāḥ`) adalah dua karunia yang sama-sama penting dan patut mendapatkan perhatian khusus, bukan hanya satu sebagai akibat dari yang lain.
Kata `humu` (هُمُ) di antara `ūlā'ika` dan `al-muflihūn` adalah `ḍamīr al-faṣl` (kata ganti pemisah). Al-Razi dan al-Zamakhshari menjelaskan bahwa ini berfungsi untuk menguatkan dan menegaskan bahwa hanya mereka, orang-orang bertakwa dengan sifat-sifat yang telah disebutkan, yang berhak disebut `al-muflihūn` (orang-orang yang benar-benar beruntung). Seolah-olah, jika keberuntungan sejati itu bisa dipersonifikasikan, merekalah wujudnya.
Adapun `al-muflihūn` (المفلحون), maknanya adalah orang yang meraih kemenangan dan kesuksesan. Al-Zamakhshari dan al-Razi menyebutkan bahwa akar kata `f-l-ḥ` (ف-ل-ح) berarti "membelah" atau "membuka". Ini memberi gambaran bahwa bagi orang-orang bertakwa, segala jalan menuju kesuksesan dan tujuan terbuka lebar, tanpa hambatan. Keberuntungan ini mencakup kemenangan di dunia dan keselamatan dari azab neraka serta meraih surga di akhirat.
Sumber: Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jalalayn
Topik yang membahas ayat ini
Ayat ini dibahas dalam 10 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).
Renungkan ayat ini
Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.