Surat Al-Balad Ayat 5

سُورَةُ البَلَدِ · Makkiyah · Ayat 5 dari 20

أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌۭ

Terjemahan

Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Surah Al-Balad, ayat 5, berbunyi: أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌۭ. Ayat ini, yang datang setelah kita diingatkan tentang hakikat penciptaan manusia dalam kesulitan (`kabad`), mengajak kita merenung jauh ke dalam sifat-sifat manusia. Ia ditujukan kepada manusia secara umum yang memiliki kecenderungan untuk sombong dan merasa berkuasa, meskipun konteks awalnya mungkin merujuk pada individu-individu kuat Quraisy yang menentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini adalah peringatan bagi kita semua.

Pertanyaan yang Menggugah Hati

Ayat ini dibuka dengan kata `أَيَحْسَبُ` (`ayaha`sabu`), sebuah pertanyaan retoris yang kuat. Para ulama tafsir seperti al-Razi dan Ibn Ashur menjelaskan bahwa `hamzah` (huruf 'a' di awal) pada `أَيَحْسَبُ` bukanlah pertanyaan biasa yang mencari jawaban, melainkan sebuah bentuk celaan dan pengingkaran. Ini adalah pertanyaan yang mengancam dan menegur, seolah Allah bertanya, "Apakah dia (manusia itu) benar-benar berpikir seperti itu?" Kata `yahsabu` sendiri berarti "mengira" atau "menduga". Jadi, ayat ini menantang suatu keyakinan batin, bukan sekadar pertanyaan tentang sebuah fakta. Allah bertanya tentang apa yang bersemayam dalam hati dan pikiran manusia yang sombong.

Anggapan Kekuatan yang Menipu

Inti dari anggapan keliru manusia terletak pada frasa `أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌۭ` (`an lan yaqdira 'alayhi ahad`). Mari kita bedah maknanya:
- `أَن` (`an`): Ini berarti "bahwa", memperkenalkan apa yang menjadi dugaan atau keyakinan orang tersebut.
- `لَّن` (`lan`): Kata ini sangat penting. Dalam tata bahasa Arab, `lan` adalah partikel yang menunjukkan penafian mutlak di masa depan. Artinya, bukan hanya "tidak bisa sekarang", tetapi "tidak akan pernah bisa". Ini menunjukkan keyakinan yang sangat kokoh dan absolut pada diri manusia itu bahwa tidak akan ada siapa pun yang mampu menguasainya, baik di masa kini maupun di masa mendatang.
- `يَقْدِرَ عَلَيْهِ`: Ini berarti "memiliki kuasa atasnya" atau "mampu mengalahkannya".
- `أَحَدٌۭ` (`ahad`): Kata "seorang pun" ini memperkuat penafian mutlak. Bukan hanya satu orang tertentu, tetapi "siapa pun", tanpa terkecuali.

Jadi, seluruh frasa ini menggambarkan kesombongan seorang manusia yang meyakini secara mutlak bahwa dirinya tidak akan pernah bisa dikuasai atau dikalahkan oleh siapa pun, bahkan oleh kekuatan ilahi. Al-Jalalaynan mencatat bahwa Allah, sebagai Yang Maha Kuasa, jelas mampu menguasainya. Dugaan ini dapat muncul karena harta yang dikumpulkan atau kekuatan fisik yang dimiliki, seperti yang disinggung oleh al-Razi. Manusia ini merasa kebal dari segala perubahan keadaan atau balasan dari perbuatannya.

Makna Tersembunyi dari Ketiadaan

Ayat ini secara retoris menanyakan suatu anggapan keliru, namun tidak secara eksplisit menyatakan "Padahal Allah Maha Kuasa atasnya." Justru di sinilah kekuatan ayat ini. Dengan menanyakan anggapan salah itu, ayat ini mengundang pendengar untuk menyadari kebenaran yang jelas dan tidak terucapkan: bahwa hanya Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan anggapan manusia tentang kekebalan itu adalah kebodohan belaka. Ketiadaan pernyataan langsung "Allah Maha Kuasa" menjadikan teguran ini lebih dalam, menantang kita untuk secara jujur menghadapi kesombongan kita sendiri dan menyadari kebenaran yang nyata akan kekuasaan ilahi.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 3 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani