Surat Al-Balad Ayat 6

سُورَةُ البَلَدِ · Makkiyah · Ayat 6 dari 20

يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًۭا لُّبَدًا

Terjemahan

Dia mengatakan, "Aku telah menghabiskan harta yang banyak."

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Surah Al-Balad ayat 6, "يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًۭا لُّبَدًا" (`yaqūlu ahlaktu mālan lubadan`), mengundang kita untuk merenungkan kebiasaan manusia yang menyombongkan diri. Ayat ini menggambarkan seseorang yang dengan bangga berkata, "Aku telah menghabiskan harta yang banyak sekali." Untuk memahami kedalaman pesan ini, mari kita perhatikan pilihan kata-kata yang Allah gunakan.

Pilihan Kata `أَهْلَكْتُ`

Perhatikan kata kerja yang digunakan di sini: `أَهْلَكْتُ` (`ahlaktu`). Ini bukan sekadar `أنفقتُ` (`anfaqtُ`) yang berarti 'aku membelanjakan' atau 'aku menginfakkan'. Kata `أَهْلَكْتُ` (`ahlaktu`) jauh lebih kuat, mengandung makna 'aku menghancurkan', 'aku membinasakan', atau 'aku menghabiskan hingga lenyap'. Para ulama tafsir, seperti Ibn Ashur, menjelaskan bahwa di masa Jahiliyah, orang-orang Quraisy biasa membanggakan diri dengan `إتْلافِ المالِ` (`itlafi al-mal`), yaitu 'membinasakan harta' atau 'menghambur-hamburkan harta'. Mereka menganggapnya sebagai suatu kemuliaan, menunjukkan seolah-olah mereka tidak terlalu peduli dengan kekayaan dunia. Jadi, pilihan kata `أَهْلَكْتُ` (`ahlaktu`) dengan jeli menangkap sikap boros yang tidak pada tempatnya dan didasari kesombongan, bahkan mungkin untuk melawan kebenaran, sebagaimana yang disebut oleh Imam al-Razi dan al-Jalalayn.

Gambaran Kekayaan `لُّبَدًا`

Kemudian, ada kata `لُّبَدًا` (`lubadan`) untuk menggambarkan jenis harta yang dibelanjakan. Kata ini berarti 'banyak', 'melimpah ruah', atau 'bertumpuk-tumpuk'. Imam al-Razi menjelaskan bahwa `لُّبَدًا` (`lubadan`) berasal dari kata `التلبيد` (`at-talbīd`), yang mengacu pada harta yang menumpuk, satu di atas yang lain. Ibn Ashur lebih lanjut menggambarkannya sebagai "apa yang menggumpal dari wol atau rambut", membentuk suatu tumpukan padat. Bayangkan betapa banyaknya harta yang dimiliki orang ini, sampai-sampai ia bisa digambarkan seperti tumpukan wol yang menggunung dan mengeras. Penggunaan kata ini memperkuat kesan tentang betapa melimpahnya kekayaan yang dihabiskan itu, dan betapa besarnya kebanggaan si pemilik atas tindakannya.

Pesan Tersirat

Yang juga penting adalah apa yang tidak dikatakan. Ayat ini tidak menjelaskan *untuk apa* harta itu dihabiskan. Ketiadaan rincian ini, bersama dengan kata `أَهْلَكْتُ` (`ahlaktu`), mengisyaratkan bahwa harta tersebut tidak dibelanjakan untuk kebaikan sejati atau hal-hal yang diridhai Allah. Sebaliknya, hal itu merujuk pada pemborosan yang didorong oleh kesombongan, untuk unjuk diri, atau bahkan untuk menentang dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Kebanggaan atas tindakan yang sebenarnya sia-sia atau merugikan ini menunjukkan kurangnya kesadaran akan pengawasan Allah, sebuah pesan yang ditekankan dalam ayat berikutnya, "Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?" (`أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ`). Ini adalah teguran tajam bagi hati yang sombong, yang mengira bisa melakukan apa saja tanpa perhitungan dari Allah.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 2 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani