Surah Ta-Ha Ayat 114

سُورَةُ طه · Makkiyyah · Ayat 114 daripada 135

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا

Terjemahan

Maka Maha Tinggilah Allah, yang Menguasai seluruh alam, lagi Yang Benar (pada segala-galanya). Dan janganlah engkau (wahai Muhammad) tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum selesai dibacakan oleh Jibril kepadamu, dan berdoalah dengan berkata: "Wahai Tuhanku, tambahilah ilmuku".

Terjemahan: Abdullah Muhammad Basmeih.

Maksud dan renungan

Pilihan Kata

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, saudaraku yang dimuliakan. Mari kita renungkan ayat yang indah ini dari Surah Taha, ayat 114, dengan penuh kerendahan hati dan keterbukaan.

Keagungan Allah, Raja Yang Hakiki

Ayat ini dibuka dengan firman Allah, `فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ` (`fata'alaa Allahu al-Maliku al-Haqqu`), yang berarti "Maka Mahatinggi Allah, Raja yang Haq". Kata `فَتَعَالَى` (`fata'alaa`) mengungkapkan ketinggian dan keagungan Allah yang mutlak, suci dari segala kekurangan dan batasan. Ini adalah seruan untuk mengagungkan-Nya atas segala perintah, larangan, janji, dan ancaman-Nya, serta atas pengelolaan seluruh kerajaan-Nya, seperti yang disebutkan oleh Imam al-Zamakhshari.

Kemudian Allah disifati dengan `الْمَلِكُ الْحَقُّ` (`al-Maliku al-Haqqu`). Ini bukan sekadar gelar, tetapi penegasan hakikat. Imam al-Razi menjelaskan bahwa `الملك` (`al-Malik`) adalah Raja yang kekuasaan-Nya tidak pernah lenyap atau berubah, tidak diperoleh dari pihak lain. Ia adalah Raja yang mutlak. Penambahan `الحق` (`al-Haqq`) menekankan bahwa kerajaan-Nya adalah benar, tidak ada sedikit pun kelemahan atau ketergantungan pada selain-Nya. Ini juga menyiratkan bahwa kekuasaan selain-Nya adalah fana dan tidak sempurna, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Ashur. Waktu penempatan ayat ini, diapit antara penjelasan tentang Al-Quran dan perintah selanjutnya, juga mengisyaratkan bahwa Al-Quran adalah `qanun` (undang-undang) dari Raja yang Haq ini.

Sabar dalam Menerima Wahyu

Setelah penegasan keagungan-Nya, Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ: `وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ` (`wa laa ta'jal bil-Qur'aani min qabli an yuqdaa ilaika wahyuhu`), yang berarti "Dan janganlah engkau tergesa-gesa (membaca) Al-Quran sebelum selesai dibacakan seluruh wahyunya kepadamu."

Kata `تَعْجَلْ` (`ta'jal`) menunjukkan sikap tergesa-gesa. Para ulama tafsir memberikan beberapa pandangan tentang apa yang dimaksud dengan "tergesa-gesa dengan Al-Quran" ini. Salah satu pendapat yang kuat, seperti yang dikemukakan oleh Ibn Abbas (diriwayatkan oleh al-Razi dan Ibn Ashur), adalah bahwa Rasulullah ﷺ, karena semangatnya untuk menghafal dan takut lupa, seringkali mengikuti bacaan Jibril sebelum Jibril selesai menyampaikan wahyu. Maka Allah memerintahkan beliau untuk menunggu hingga wahyu `يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ` (`yuqdaa ilaika wahyuhu`), yaitu diselesaikan penyampaiannya. Ini mirip dengan ayat lain, "Janganlah engkau gerakkan lidahmu (untuk membacanya) kerana hendak cepat-cepat menguasainya" (Al-Qiyamah 75:16). Ibn Ashur menambahkan bahwa perintah ini juga bisa bermakna agar tidak tergesa-gesa menyampaikan isi Al-Quran kepada para sahabat sebelum maknanya jelas. Ini adalah pelajaran tentang ketenangan dan kesabaran dalam menerima ilmu dari Sumber yang Mahabijaksana.

Permohonan untuk Pengetahuan

Ayat ini diakhiri dengan sebuah doa yang mulia: `وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا` (`wa qul Rabbi zidnee 'ilmaa`), yang berarti "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.'"

Imam al-Zamakhshari mencatat bahwa Allah tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan dalam hal apapun kecuali ilmu. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu di sisi Allah. Doa ini, yang datang setelah larangan tergesa-gesa, adalah sebuah kelembutan dan bimbingan bagi Rasulullah ﷺ. Ini mengisyaratkan bahwa keinginan Nabi untuk cepat-cepat mendapatkan dan menyampaikan Al-Quran adalah didorong oleh niat yang terpuji, yaitu keinginan akan ilmu dan kebaikan bagi umat. Allah tidak menafikan niat baik itu, melainkan mengarahkan keinginan tersebut menjadi permohonan yang tepat. Daripada tergesa-gesa, beliau diajarkan untuk memohon langsung kepada Allah agar ditambah `عِلْمًۭا` (`'ilmaa`) atau ilmu, yang mencakup segala bentuk pengetahuan, baik wahyu, ilham, maupun pemahaman, seperti yang dijelaskan oleh Ibn Ashur. Ini adalah pengajaran bagi kita semua: setiap kali kita merasa ingin tergesa-gesa dalam mencari ilmu atau kebaikan, kita seharusnya menyerahkan urusan kepada Allah dan memohon kepada-Nya untuk menambahkan ilmu kepada kita.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jalalayn, al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Hikmah

Memahami Kebesaran Allah

Ayat ini membuka lembaran dengan firman Allah, `فَتَعَالَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ` (Maka Maha Tinggilah Allah, Raja Yang Sebenar-benarnya). Ini adalah pernyataan yang agung tentang kebesaran Allah, Tuhan kita, yang Maha Suci dari sebarang kekurangan atau cela. Sebagaimana yang dihuraikan oleh al-Saadi, kewujudan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah adalah `الحق` (kebenaran yang mutlak), abadi dan tidak berubah, berbeza dengan semua kekuasaan duniawi yang bersifat sementara. Mengingati kebenaran ini menanamkan dalam diri kita rasa rendah diri dan kepercayaan penuh kepada Allah sebagai satu-satunya sumber segala kebenaran dan ilmu.

Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Kemudian, Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ, `وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ` (Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum selesai wahyu itu disampaikan kepadamu). Para ulama seperti al-Qurtubi dan Mufti Shafi menjelaskan bahawa Nabi Muhammad ﷺ dahulunya begitu bersemangat dan ghairah sehingga Baginda akan mengulang bacaan Al-Quran bersama Jibril AS, bimbang akan terlupa. Namun, Allah meyakinkan Baginda bahawa Dia akan memastikan Al-Quran kekal dalam ingatan Baginda tanpa perlu tergesa-gesa.

Pelajaran penting untuk kita di sini adalah tentang `adab` (tatacara) dalam menuntut ilmu. Kita diajar untuk bersabar dan memberikan tumpuan sepenuhnya ketika menerima ilmu, terutamanya ilmu wahyu. Ini mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa dalam memahami sesuatu, tetapi mendengar dan merenung hingga selesai penyampaian, yakin bahawa Allah akan membukakan kefahaman kepada hati yang sabar dan fokus.

Doa Untuk Ilmu Yang Berpanjangan

Ayat ini diakhiri dengan perintah yang mulia, `وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا` (Dan katakanlah, "Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu"). Jika Nabi Muhammad ﷺ, insan yang paling berilmu, diperintahkan untuk sentiasa meminta penambahan ilmu, apatah lagi kita. Mufti Shafi menerangkan bahawa doa ini adalah permohonan yang merangkumi hafalan, kefahaman yang mendalam, dan ilmu yang belum tiba.

Ini adalah `qawā'id Qur'āniyyah` (prinsip Al-Quran) yang mengajarkan bahawa perjalanan menuntut ilmu adalah sepanjang hayat dan tidak pernah berakhir. Ia mendorong kita untuk sentiasa merendah diri, mengakui keterbatasan ilmu kita, dan berterusan memohon kepada Allah untuk memperluaskan pemahaman dan hikmah. Doa ini adalah seruan untuk berterusan berusaha, memiliki keinginan yang membara untuk belajar, dan sentiasa bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam setiap langkah pencarian ilmu kita.

Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Saadi (Taysir al-Karim), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Munir (Wahba al-Zuhayli)

Topik yang membincangkan ayat ini

Ayat ini dibincangkan dalam 14 panduan kajian tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggeris).

Lihat semua topik al-Quran

Renungi ayat ini

Renungi ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maksudnya bagi anda, hubungannya dengan ayat lain, dan pengajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungi ayat ini dengan Maani