Surat Ash-Shams Ayat 1

سُورَةُ الشَّمۡسِ · Makkiyah · Ayat 1 dari 15

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا

Terjemahan

Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Tentang Ayat Ini

Surah Ash-Shams diawali dengan serangkaian sumpah yang menggetarkan jiwa, dimulai dengan firman Allah, وَٱلشَّمْسِ وَضُحَىٰهَا (`Wa ash-Shamsi wa Duhaha`). Ini adalah sumpah dari Allah, Sang Pencipta, yang sedang berbicara kepada kita. Sumpah ini dimaksudkan untuk menarik perhatian dan menegaskan kebenaran yang akan disampaikan selanjutnya, yaitu tentang keberhasilan orang yang menyucikan jiwanya dan kerugian orang yang mengotorinya. Dengan Dia bersumpah demi ciptaan-Nya yang agung, Allah ingin kita merenungkan kebesaran-Nya dan apa yang akan Dia sampaikan.

Mengapa Matahari?

Ayat ini dimulai dengan sumpah demi الشَّمْسِ (`ash-Shamsi`), yaitu Matahari. Para ulama tafsir, seperti Ibn Ashur, menjelaskan bahwa Matahari adalah salah satu benda langit yang paling agung dan memiliki cahaya yang paling terang di antara semua yang terlihat di bumi. Pemilihan Matahari sebagai awal sumpah ini bukan tanpa makna. Cahaya Matahari yang menyebar ke seluruh penjuru alam semesta sering kali menjadi simbol bagi kejelasan iman setelah kegelapan kekafiran. Ia adalah penanda datangnya hidayah yang menerangi, sebagaimana cahaya Matahari menghilangkan kegelapan malam.

Cahaya `Dhuha`

Kemudian, Allah bersumpah demi وَضُحَىٰهَا (`wa Duhaha`), yang secara harfiah berarti "dan waktu `Dhuha`-nya" atau "cahayanya di waktu `Dhuha`". Kata `Dhuha` sendiri memiliki beberapa makna di kalangan ulama:
* Menurut Mujahid dan al-Kalbi, `Dhuha` berarti ضوؤها (cahayanya atau sinarnya).
* Qatadah menafsirkannya sebagai النهار كله (seluruh siang).
* Sementara Muqatil berpendapat bahwa itu adalah حر الشمس (panas Matahari).

Al-Razi menjelaskan bahwa `Dhuha` secara bahasa mengacu pada ketinggian siang dan cahaya Matahari yang sepenuhnya terpancar di atas bumi. Ini adalah puncak kekuatan dan kehangatan Matahari, ketika cahayanya paling terang dan kekuasaannya terasa dominan. Penafsiran ini menunjukkan waktu ketika Matahari telah terbit dan sinarnya mulai terlihat jelas hingga menjelang tengah hari.

Sebuah Pesan Penting

Dengan bersumpah demi Matahari dan cahayanya di waktu `Dhuha`, Allah hendak menarik perhatian kita pada keteraturan dan kebesaran ciptaan-Nya. Al-Razi menyebutkan bahwa Allah senantiasa mengingatkan hamba-Nya untuk merenungi makhluk-makhluk-Nya yang penuh manfaat agar mereka bersyukur. `Dhuha` dengan segala pancaran cahaya dan kehangatannya, seolah menggambarkan puncak kehidupan dan kejelasan. Ini adalah permulaan yang megah, mempersiapkan kita untuk menerima pesan yang sangat mendalam tentang nasib jiwa kita di hadapan cahaya dan kegelapan pilihan kita sendiri.

Sumber: al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jalalayn, Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 4 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani