Surat Sad Ayat 87

سُورَةُ صٓ · Makkiyah · Ayat 87 dari 88

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌۭ لِّلْعَٰلَمِينَ

Terjemahan

(Alquran) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mari kita merenungkan Surah Shad ayat 87 ini, sebuah permata kata-kata dari Al-Qur'an, yang mengajak kita untuk memahami hakikatnya dengan lebih mendalam.

Konteks Ayat

Ayat yang mulia ini adalah bagian dari serangkaian pernyataan yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk disampaikan kepada kaumnya. Ini datang segera setelah Nabi menegaskan bahwa beliau tidak meminta imbalan duniawi atas risalahnya, dan bahwa beliau bukanlah orang yang mengada-ada atau memalsukan sesuatu (`mutakallif`). Dengan demikian, ayat ini dengan tegas menjelaskan *apa* sebenarnya Al-Qur'an itu, setelah sebelumnya menepis anggapan-anggapan yang salah tentangnya. Ia adalah pernyataan langsung dari Allah, yang disampaikan melalui Nabi-Nya, kepada seluruh manusia dan jin.

Hakikat Al-Qur'an: Sebuah Pengingat

Ayat ini dibuka dengan susunan kata `إن هو إلا ذكر` (`in huwa illa dhikrun`), yang secara harfiah berarti "Tidaklah ia melainkan suatu peringatan". Struktur ini, yang menggunakan `in` (nafiyah, penafian) dan `illa` (istitsna', pengecualian), dalam bahasa Arab menunjukkan penegasan dan pembatasan yang kuat. Ini berarti, Al-Qur'an *hanyalah* `dhikr`, dan bukan hal lain. Seperti yang dijelaskan oleh `al-Jalalayn`, `dhikr` berarti "nasihat" atau "peringatan". Para ulama seperti `Ibn Ashur` lebih lanjut menjelaskan bahwa penegasan ini adalah bantahan langsung terhadap tuduhan orang-orang musyrik yang menyebut Al-Qur'an sebagai dongeng, sihir, atau syair. Ini adalah `qasr qalb idafiy`, sebuah penolakan terhadap alternatif dan penegasan esensinya.

`Dhikr` di sini bukanlah sekadar 'mengingat' secara pasif, melainkan 'pengingat' yang memiliki kekuatan untuk membangkitkan, memperingatkan, dan membimbing. `Al-Razi` mengaitkan `dhikr` dengan prinsip-prinsip Islam yang fundamental dan rasional, yang bahkan akal sehat pun dapat menyaksikannya. Ini adalah pengingat akan kebenaran yang sudah tertanam dalam fitrah manusia.

Untuk Seluruh Alam

Kata `للعالمين` (`lil-'alamin`) yang menyertainya memiliki makna yang sangat luas: "untuk seluruh alam", yang oleh `al-Muyassar` dan `al-Jalalayn` dijelaskan sebagai jin dan manusia, yaitu makhluk-makhluk berakal. Pemilihan kata ini menunjukkan universalitas pesan Al-Qur'an. Ini bukan hanya untuk kaum Quraisy, bukan hanya untuk orang Arab, melainkan untuk semua makhluk berakal di setiap zaman dan tempat.

`Ibn Ashur` menyoroti bahwa penggunaan kata `lil-'alamin` yang umum ini berfungsi sebagai `tadhyeel`, yaitu pernyataan yang menguatkan dan menyimpulkan apa yang telah disebutkan sebelumnya. Ini memperluas jangkauan pesan Al-Qur'an: jika kaum Quraisy menolaknya, maka ada umat-umat lain, ada manusia dan jin lain yang akan menerimanya. Kebenaran Al-Qur'an tidak bergantung pada penerimaan satu kelompok saja, melainkan ia adalah cahaya bagi semesta alam.

Apa Maknanya Bagi Kita?

Melalui pemilihan kata-kata yang begitu presisi ini, Al-Qur'an mengingatkan kita akan statusnya yang agung: ia bukan karangan manusia, bukan hiburan, melainkan peringatan suci dari Allah. Ia datang untuk mengingatkan kita akan tujuan hidup, tanggung jawab kita, dan jalan menuju kebahagiaan sejati. Sebagai `dhikr` bagi `al-alamin`, ia adalah ajakan universal untuk merenung, mengambil pelajaran, dan menyelaraskan hidup kita dengan kebenaran ilahi yang tidak lekang oleh waktu dan tempat. Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an, dengan pesannya yang murni dan tanpa cela, adalah sebuah pengingat yang relevan dan esensial bagi setiap jiwa.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Koneksi

Pengantar Ayah

Ayah ini, "إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌۭ لِّلْعَٰلَمِينَ", hadir setelah Nabi Muhammad (shallallahu alayhi wa sallam) dengan tegas menyatakan bahwa beliau tidak meminta imbalan apa pun atas risalah yang dibawanya, dan beliau bukan orang yang berpura-pura atau membuat-buat klaim. Dalam konteks ini, ayah 87 ini berfungsi sebagai penegasan tentang *apa* sebenarnya yang Nabi bawa. Ini bukan omong kosong, bukan cerita palsu, melainkan sesuatu yang sangat mendasar dan hakiki.

Makna 'Dhikr' yang Mendalam

Allah berfirman, "إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌۭ" (`In huwa illa dhikr`), yang secara harfiah berarti, "Ini tidak lain hanyalah sebuah peringatan." Namun, kata `dhikr` di sini memiliki makna yang lebih kaya dan mendalam. Seperti yang dijelaskan oleh al-Biqa'i, setelah Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an berasal dari-Nya dan menghilangkan keraguan yang dilontarkan orang-orang, Dia menjelaskan hakikat Al-Qur'an itu sendiri. Itu adalah "cِظَةٌ" (`'izah`), yakni nasihat atau pengajaran, dan "شَرَفٌ" (`sharaf`), yaitu kehormatan. Al-Wasit (Tantawi) menambahkan bahwa `dhikr` ini adalah "وعظ بليغ" (`wa'z baligh`), nasihat yang mendalam dan sangat menyentuh, serta "شرف عظيم" (`sharaf azim`), kehormatan yang besar bagi mereka yang mengikutinya, baik dalam perintah maupun larangan-Nya. Jadi, Al-Qur'an bukan sekadar buku, melainkan sumber kehormatan dan pengingat yang kuat untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Untuk Siapa Peringatan Ini?

Kata "لِّلْعَٰلَمِينَ" (`lil-'alamin`) memperjelas bahwa `dhikr` ini ditujukan "bagi seluruh alam." Ini mencakup seluruh manusia dan jin, tanpa memandang ras, bahasa, atau zaman. Al-Biqa'i menekankan bahwa setiap individu, baik yang cerdas maupun yang biasa, dapat memahami apa yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kapasitasnya. Ini menunjukkan universalitas Al-Qur'an, yang relevan untuk setiap jiwa. Ini adalah karunia universal dari Allah, yang seharusnya tidak ditolak atau dianggap remeh oleh siapa pun.

Jalinan Antara Ayah

Ayah ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayah sebelumnya (38:86). Ketika Nabi menyatakan tidak mencari upah dan bukan orang yang mengada-ada, maka pertanyaan yang mungkin muncul adalah, "Lalu apa yang Anda bawa?" Jawabannya ada di sini: "Itu hanyalah `dhikr` (peringatan dan kehormatan) bagi seluruh alam." Ini menekankan kesucian niat Nabi dan kebenaran wahyu yang beliau bawa. Al-Sabuni menjelaskan bahwa ayat ini adalah bagian dari pernyataan misi Rasulullah, penegasan keesaan Allah, serta Hari Kebangkitan dan pembalasan. Al-Qur'an sebagai `dhikr` adalah instrumen utama untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran fundamental ini, menjadi petunjuk dan kehormatan bagi siapa saja yang mau merenunginya.

Sumber: al-Wasit (Tantawi), al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 1 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani