Surat Maryam Ayat 45
سُورَةُ مَرۡيَمَ · Makkiyah · Ayat 45 dari 98
يَٰٓأَبَتِ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌۭ مِّنَ ٱلرَّحْمَٰنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَٰنِ وَلِيًّۭا
Terjemahan
Wahai ayahku! Sungguh aku khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan."
Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Makna dan renungan
Pilihan Kata
Ayat yang mulia ini adalah bagian dari serangkaian nasihat lembut Nabi Ibrahim kepada ayahnya, Azar, yang menyembah berhala. Dalam ayat ini, Ibrahim menyampaikan kekhawatirannya yang mendalam terhadap nasib ayahnya.
Sapaan Penuh Kasih Sayang
Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim memulai setiap nasihatnya, termasuk di ayat ini, dengan panggilan "يا أَبَتِ" (`Ya abati`). Panggilan ini, seperti yang dijelaskan oleh al-Zamakhshari dan al-Razi, bukanlah sekadar "ayahku," melainkan mengandung makna kelembutan, permohonan, dan mencari kasih sayang. Huruf `ta` (`ت`) pada akhir kata "أبت" menggantikan huruf `ya` (`ي`) kepunyaan, menjadikannya panggilan yang lebih akrab dan dekat, menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang yang tulus dari seorang anak kepada ayahnya, bahkan ketika menyampaikan hal yang sulit.
Kekhawatiran dari Yang Maha Pengasih
Nabi Ibrahim berkata, "إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌۭ مِّنَ ٱلرَّحْمَٰنِ" (`innī akhāfu an yamassaka 'adhābun min ar-Raḥmān`). Kata "أَخَافُ" (`akhāfu`), yang berarti "aku khawatir" atau "aku takut", menunjukkan kerendahan hati Ibrahim dan adabnya di hadapan Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Ashur. Ini bukan pernyataan pasti bahwa azab akan menimpa, melainkan ekspresi harapan agar ayahnya mempertimbangkan kembali, membuka ruang untuk taubat. Penggunaan kata "يَمَسَّكَ" (`yamassaka`), yang berarti "menyentuh" atau "menimpa," juga dipilih untuk melembutkan penyampaian, dan `عَذَابٌ` (`'adhābun`) yang tidak disebutkan jenisnya, juga merupakan bagian dari adab ini.
Yang paling mendalam adalah penyebutan azab itu datang "مِّنَ ٱلرَّحْمَٰنِ" (`min ar-Raḥmān`), dari Yang Maha Pengasih. Ibn Ashur menjelaskan bahwa ini adalah penekanan yang kuat. Azab yang datang dari Dzat yang sifat-Nya adalah Maha Pengasih menunjukkan betapa besar dan fatalnya dosa syirik. Ia mengindikasikan bahwa perbuatan ayahnya telah mencapai tingkat kekejian yang begitu rupa sehingga bahkan kemurahan Allah yang melimpah pun tidak dapat menahan azab-Nya. Ini adalah peringatan yang luar biasa tentang konsekuensi perbuatan yang memutuskan diri dari rahmat Allah.
Sekutu Setan: Kerugian Terbesar
Peringatan Ibrahim kemudian berlanjut, "فَتَكُونَ لِلشَّيْطَٰنِ وَلِيًّۭا" (`fatakūna li-ash-Shayṭāni walīyā`), yang berarti "lalu engkau menjadi penolong/kekasih setan." Al-Zamakhshari dan al-Razi menyoroti poin ini sebagai sesuatu yang lebih besar dari azab itu sendiri. Menjadi "walī" (`walī`) setan, yaitu sekutu, pengikut, atau teman akrabnya, adalah kerugian spiritual yang sangat besar. Sebagaimana keridaan Allah lebih agung daripada pahala, demikian pula persahabatan dengan setan – yang merupakan lawan dari keridaan Allah – adalah lebih besar dan lebih buruk daripada azab fisik. Ini adalah kehilangan tertinggi: kehilangan kedudukan di sisi Allah dan jatuh ke dalam kelompok setan, yang hanya menginginkan kehancuran dan kebinasaan.
Melalui pemilihan kata-kata yang penuh kasih, namun tegas dalam maknanya, Nabi Ibrahim menyampaikan peringatan mendalam tentang bahaya syirik dan konsekuensi menjadi "walī" setan. Pesannya adalah seruan untuk kembali kepada Allah yang Maha Pengasih, sebelum terlambat.
Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Razi (Mafatih al-Ghayb)
Topik yang membahas ayat ini
Ayat ini dibahas dalam 6 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).
Renungkan ayat ini
Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.