Surat Hud Ayat 91

سُورَةُ هُودٍ · Makkiyah · Ayat 91 dari 123

قَالُوا۟ يَٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًۭا مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفًۭا ۖ وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَٰكَ ۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍۢ

Terjemahan

Mereka berkata, "Wahai Syu'aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami."

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Ayat yang mulia ini mengungkap respons keras dan penuh penghinaan dari kaum Nabi Syu'aib (عليه السلام) terhadap seruannya. Mereka bukan hanya menolak pesannya, tetapi juga merendahkan dan mengancamnya secara verbal. Mari kita selami pilihan kata-kata mereka yang tajam untuk memahami kedalaman penolakan ini.

Menolak Paham, Menegaskan Cemooh

Kaum Nabi Syu'aib memulai dengan berkata, قَالُوا۟ يَٰشُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيرًۭا مِّمَّا تَقُولُ (Mereka berkata, "Wahai Syu'aib, kami tidak memahami banyak dari apa yang engkau katakan"). Kata `nafqahtu` (نفقه) yang berarti "kami memahami" atau "kami mengerti" di sini tidak sekadar menunjukkan ketidakmampuan untuk menangkap makna. Para ulama tafsir seperti al-Zamakhshari dan al-Razi menjelaskan bahwa kaumnya Syu'aib bukanlah benar-benar tidak mengerti kata-kata beliau, sebab Nabi Syu'aib dikenal sebagai `khateeb al-anbiya` (juru bicara para nabi) karena kefasihan dan kejelasan bicaranya (Ibn Ashur). Namun, penolakan mereka berasal dari keengganan hati dan kebencian terhadap ajarannya. Seolah-olah mereka berkata, "Apa yang kamu sampaikan itu tidak masuk akal bagi kami, itu omong kosong." Ini adalah bentuk meremehkan dan penghinaan, bukan pengakuan jujur atas ketidakpahaman. Penggunaan kata `katheeran` (كثيرا - banyak) dan bukan "tidak sama sekali" juga bisa berarti mereka secara selektif menolak bagian-bagian inti dari dakwah Syu'aib yang bertentangan dengan kebiasaan mereka, seperti tauhid dan kejujuran dalam berniaga.

Lemah di Mata Mereka, Dipertegas dengan Bahasa

Kemudian, mereka menambahkan, وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِينَا ضَعِيفًۭا (Dan sesungguhnya kami melihatmu di antara kami sebagai orang yang lemah). Ayat ini menggunakan `inna` (sesungguhnya) dan `lam` taukid (penekanan) pada `lanaraka` (benar-benar melihatmu), menegaskan keyakinan kuat mereka. Mereka ingin Syu'aib tahu bahwa ini bukan sekadar dugaan, melainkan kenyataan yang jelas bagi mereka (Ibn Ashur). Kata `da'eefan` (ضعيفا - lemah) di sini, seperti dijelaskan oleh al-Zamakhshari, al-Razi, dan Ibn Ashur, merujuk pada kelemahan dalam arti tidak memiliki kekuatan, pengaruh, atau perlindungan untuk membela diri. Ini bukan kelemahan fisik atau kebutaan, sebagaimana pandangan yang keliru, karena ungkapan `feena` (di antara kami) tidak akan relevan jika yang dimaksud adalah buta (al-Razi). Mereka melihat Syu'aib sebagai seseorang tanpa pendukung yang bisa melindunginya dari keinginan mereka.

Hanya Kerabat yang Dihormati

Ancaman mereka semakin menguat, وَلَوْلَا رَهْطُكَ لَرَجَمْنَٰكَ (Dan kalau bukan karena kaum kerabatmu, tentulah kami sudah melemparimu dengan batu). Partikel `lawla` (kalau bukan karena) dengan jelas menunjukkan bahwa satu-satunya penghalang dari niat buruk mereka adalah `rahthuk` (رهطك - kaum kerabatmu). `Rahth` adalah kelompok kecil, biasanya 3 sampai 10 orang (al-Zamakhshari, Ibn Ashur). Para ulama menjelaskan bahwa kerabat Syu'aib ini kemungkinan masih menganut agama kaumnya, sehingga mereka dihormati. Jadi, kaum Syu'aib menahan diri bukan karena menghormati Syu'aib, tetapi karena menghormati kerabatnya. Ini adalah penghinaan ganda: Nabi Syu'aib tidak memiliki kehormatan pribadi, dan keselamatan beliau hanya karena kehormatan orang lain (Ibn Ashur). `Rajm` (merajam) adalah cara membunuh yang kejam dan memalukan, biasanya dengan lemparan batu, menunjukkan tingkat kebencian dan penghinaan yang ekstrem.

Tanpa Kehormatan di Hadapan Mereka

Penutup kalimat ini mengkristalkan semua penghinaan sebelumnya: وَمَآ أَنتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍۢ (Dan engkau sama sekali tidak mulia di mata kami). Frasa `ma anta 'alayna bi 'azeezin` menegaskan bahwa Nabi Syu'aib tidak memiliki kedudukan, harga diri, atau kehormatan di mata mereka yang bisa menghalangi mereka untuk membunuhnya (al-Jalalayn). Huruf `ba` tambahan pada `bi 'azeezin` adalah penekan, memperkuat penolakan bahwa beliau `azeez` (mulia atau kuat). Ini seolah-olah penegasan: "Kami tidak merajammu bukan karena kamu `azeez` bagi kami, melainkan kerabatmulah yang `azeez`." Penggunaan `anta` (engkau) yang diletakkan di awal kalimat (al-Zamakhshari) memperkuat bahwa *beliau sendiri* yang tidak memiliki kehormatan bagi mereka. Hal ini dengan indah mempersiapkan jawaban Nabi Syu'aib berikutnya di ayat selanjutnya, "Apakah kaum kerabatku lebih mulia bagimu daripada Allah?"

Melalui pilihan kata-kata yang begitu detail, Al-Qur'an menggambarkan betapa dalamnya kesombongan, penghinaan, dan ancaman yang diterima Nabi Syu'aib dari kaumnya, yang berujung pada penolakan mutlak terhadap pesan Ilahi.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 13 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani