Surat Yunus Ayat 87

سُورَةُ يُونُسَ · Makkiyah · Ayat 87 dari 109

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًۭا وَٱجْعَلُوا۟ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةًۭ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, "Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah salat serta gembirakanlah orang-orang mukmin."

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Surah Yunus ayat 87 dimulai dengan firman Allah, `wa awḥaynā ilā Mūsā wa akhīhi` (Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya). Ini adalah perintah langsung dari Allah Yang Maha Tinggi kepada Nabi Musa dan Harun, sebuah bentuk komunikasi yang suci dan penuh arahan.

Perintah Awal dan Nuansanya

Ayat ini melanjutkan perintah-Nya: `an tabawwa'ā liqaumikumā bi-Miṣra buyūtā` (agar kalian berdua menjadikan untuk kaum kalian di Mesir rumah-rumah). Kata `tabawwa'a` (تَبَوَّءَا) berasal dari akar kata yang berarti "kembali" atau "berdiam". Ibn Ashur menjelaskan bahwa `tabawwa'a` berarti "mengambil tempat tinggal". Menariknya, perintah ini ditujukan kepada Musa dan Harun dalam bentuk dual (untuk dua orang), namun maknanya adalah agar mereka *mengarahkan* kaum mereka untuk mengambil atau membuat rumah. Bukan berarti Musa dan Harun secara fisik membangun rumah untuk semua orang, melainkan mereka bertanggung jawab untuk memimpin kaumnya dalam menyediakan tempat tinggal. Ibn Ashur lebih lanjut berpendapat bahwa `buyūt` (rumah-rumah) di sini bisa jadi merujuk pada kemah atau gubuk sementara, sebagai persiapan Bani Israil untuk keberangkatan dari Mesir, bukan rumah-rumah permanen mereka yang sudah ada.

Pergeseran Perintah dan Maknanya

Kemudian, terjadi pergeseran subjek dalam perintah berikutnya: `waj'alū buyūtakum qiblah` (dan jadikanlah rumah-rumah kalian sebagai kiblat). Perhatikan bahwa perintah ini menggunakan bentuk jamak (`ij'alū`, jadikanlah kalian semua), beralih dari bentuk dual sebelumnya. Para ulama seperti al-Zamakhshari dan al-Razi menyoroti pergeseran (disebut `iltifāt`) ini sebagai petunjuk kebijaksanaan. Perintah untuk menyusun tempat tinggal (tugas kepemimpinan) ditujukan kepada Musa dan Harun. Namun, menjadikan rumah sebagai `qiblah` (arah salat) dan mendirikan `ṣalāh` (salat) adalah kewajiban yang umum bagi seluruh kaum, tidak hanya para pemimpin.

Makna `qiblah` (قِبْلَةً) di sini juga memiliki beberapa penafsiran. Al-Jalalayn dan al-Zamakhshari menafsirkan `qiblah` sebagai "tempat salat" atau "mushalla". Artinya, mereka diperintahkan untuk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat khusus untuk salat. Para ulama menyebutkan bahwa ini diperlukan karena ketakutan terhadap Firaun yang melarang dan mengganggu salat mereka di tempat umum, mirip dengan kondisi awal dakwah di Makkah. Ibn Ashur menambahkan bahwa orientasi rumah ke arah `qiblah` (Ka'bah, yang dari Mesir adalah ke arah selatan) juga memiliki manfaat praktis, seperti masuknya sinar matahari.

Kabar Gembira Khusus

Ayat ini ditutup dengan: `wa bashshiri al-mu'minīn` (dan berilah kabar gembira kepada orang-orang beriman). Di sini, perintah kembali ke bentuk tunggal, ditujukan kepada Musa saja. Al-Razi menjelaskan bahwa pengkhususan Musa untuk menyampaikan `bashārah` (kabar gembira) ini menunjukkan peran utamanya sebagai rasul dan bahwa kabar gembira tentang kemenangan dan hasil akhir yang baik ini adalah puncak dari semua perintah ibadah dan kesabaran mereka.

Melalui pilihan kata yang begitu cermat, ayat ini mengajarkan kita tentang tanggung jawab kepemimpinan, kewajiban kolektif umat, dan pentingnya menjaga ibadah bahkan dalam kondisi sulit, dengan janji kabar gembira bagi mereka yang beriman dan bersabar.

Sumber: Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), al-Jalalayn

Hikmah

Rumah Sebagai Pusat Ibadah

Ayat mulia ini, Surah Yunus ayat 87, datang pada saat yang genting bagi Nabi Musa dan Nabi Harun beserta kaumnya, Bani Isra'il. Mereka hidup dalam penindasan berat di bawah kekuasaan Firaun, yang bahkan menghancurkan tempat-tempat ibadah mereka. Dalam kondisi sulit ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun sebuah perintah yang penuh hikmah: وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًۭا وَٱجْعَلُوا۟ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةًۭ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ (Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, "Ambillah untuk kaummu rumah-rumah di Mesir, dan jadikanlah rumah-rumahmu sebagai `qiblah` (arah atau tempat shalat), dan dirikanlah shalat, serta berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin").

Beribadah di Tengah Ujian

Perintah pertama, أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًۭا (Ambillah untuk kaummu rumah-rumah di Mesir), berarti mereka harus menempati atau membangun rumah-rumah yang dapat berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus perlindungan. Mufti Shafi' menjelaskan bahwa Bani Isra'il biasanya hanya shalat di sinagog mereka. Namun, karena Firaun merobohkan tempat-tempat ibadah itu, Allah mengizinkan mereka untuk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai pengganti. Ini menunjukkan kelenturan syariat Allah dalam menghadapi kondisi darurat dan penindasan.

Kemudian, perintah وَٱجْعَلُوا۟ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةًۭ (jadikanlah rumah-rumahmu sebagai `qiblah`) memiliki arti penting. Menurut para mufasir seperti al-Saadi, ini berarti menjadikan rumah-rumah tersebut sebagai tempat khusus untuk shalat. Ini bukan hanya tentang arah Ka'bah atau Baitul Maqdis, melainkan tentang mengubah ruang pribadi menjadi ruang ibadah yang sakral. Ketika ibadah di tempat umum sulit atau berbahaya, rumah dapat menjadi benteng spiritual, sebuah `qiblah` pribadi yang mengarahkan hati kepada Allah.

Kekuatan Shalat dan Harapan

Ayat ini juga menegaskan وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۗ (dan dirikanlah shalat). Shalat adalah tiang agama, dan perintah ini mengingatkan kita bahwa ibadah tidak boleh ditinggalkan, bahkan dalam situasi yang paling menekan. Al-Saadi menggarisbawahi bahwa shalat adalah penolong dalam segala urusan, (`mu'awana 'ala jami' al-umur`). Ia adalah sumber kekuatan dan ketenangan di tengah ketakutan dan ancaman. Dengan shalat, seorang mukmin menguatkan hubungannya dengan Allah, mencari pertolongan, dan menemukan kedamaian batin.

Di akhir ayat, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ (dan berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin). Ini adalah `basharah`, kabar baik tentang pertolongan Allah, kemenangan atas musuh, dan pahala yang besar di akhirat. Kabar gembira ini berfungsi sebagai penguat semangat, menanamkan keyakinan bahwa janji Allah itu benar. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Saadi, "sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (`inna ma'al 'usri yusra`). Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap ujian, ada janji kelegaan dan kemenangan dari Allah.

Pelajaran untuk Kita

Dari ayat ini, kita mengambil pelajaran berharga:
1. Keteguhan dalam beribadah: Walau dihadapkan pada kesulitan atau penolakan lingkungan, kita harus tetap menjaga shalat kita.
2. Rumah sebagai tempat suci: Jadikan rumah kita bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat untuk mengingat dan beribadah kepada Allah. Luangkan ruang atau waktu khusus untuk shalat dan refleksi spiritual di rumah.
3. Keyakinan pada pertolongan Allah: Dalam setiap kesulitan, pegang teguh janji Allah akan pertolongan dan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal.

Ayat ini mengajak kita untuk menciptakan benteng spiritual dalam diri dan lingkungan terdekat kita, menjadikan ibadah sebagai sumber kekuatan yang tak tergoyahkan, dan senantiasa berharap pada janji Allah.

Sumber: Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Saadi (Taysir al-Karim), al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Munir (Wahba al-Zuhayli)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 5 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani