Surat Yunus Ayat 25
سُورَةُ يُونُسَ · Makkiyah · Ayat 25 dari 109
وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
Terjemahan
Dan Allah menyeru (manusia) ke Dārussalām (surga), dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).
Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Makna dan renungan
Cermin Duniawi
Ayah ke-25 dari Surah Yunus ini, وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ, datang sebagai seruan harapan dan petunjuk setelah Allah menggambarkan kerapuhan dan kefanaan kehidupan duniawi di ayat sebelumnya. Ia adalah undangan langsung dari Allah, berbicara kepada kita semua, untuk menuju kebun-kebun-Nya yang telah Dia siapkan bagi kekasih-kekasih-Nya. Ini adalah ajakan untuk memahami bahwa ada tujuan yang lebih kekal di luar hiruk pikuk dunia yang fana ini.
Panggilan Ilahi menuju Kedamaian Sejati
Ayah ini menegaskan bahwa Allah-lah yang memanggil kita, "Dan Allah menyeru kepada `dar al-salam` (negeri keselamatan)." Panggilan ini bersifat umum bagi seluruh umat manusia (al-Munir, Sayyid Qutb), sebuah undangan terbuka untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya. `Dar al-Salam` sendiri, seperti yang dijelaskan oleh para ulama seperti Ibn al-Jawzi dan al-Munir, adalah Surga, disebut demikian karena ia adalah tempat yang terbebas dari segala cela, kekurangan, dan kesengsaraan.
Panggilan ini, ketika kita cermati, mengingatkan kita secara pribadi (`nafs`) untuk melihat kembali prioritas hidup. Apakah hati kita masih terpikat pada kesenangan dunia yang sementara, ataukah kita mendengar panggilan Ilahi yang menawarkan kedamaian abadi? Pada tingkat yang lebih luas (`ummah`), ini adalah ajakan bagi komunitas Muslim untuk memahami misi mereka sebagai pembawa risalah damai ini kepada dunia. Sebagaimana yang disiratkan dalam hadis yang disebut Sayyid Qutb, Nabi Muhammad ﷺ adalah penyeru, Islam adalah rumah, dan Surga adalah hidangan yang disiapkan. Ini berarti kita memiliki tanggung jawab kolektif untuk memahami dan menyampaikan undangan ini, baik melalui teladan pribadi maupun dakwah yang bijaksana.
Jalan Lurus Menuju Tujuan
Bagian kedua dari ayat ini berbunyi, "dan Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus." Ini adalah `hidaya` (petunjuk) yang lebih spesifik. Para ulama seperti al-Munir membedakan antara `hidaya dalalah wa irshad` (petunjuk penunjukan dan pengarahan), yang umum bagi semua orang melalui Al-Qur'an dan para Nabi, dan `hidaya tawfiq` (petunjuk taufik atau kesuksesan ilahi), yang diberikan Allah kepada mereka yang Dia kehendaki. Jalan yang lurus (`sirat al-mustaqim`) ini, menurut banyak penafsiran termasuk Ibn al-Jawzi dan al-Munir, adalah Islam itu sendiri, dengan seluruh akidah, akhlak, dan hukum-hukumnya.
Secara pribadi (`nafs`), ayat ini memprovokasi kita untuk merenungkan sejauh mana kita telah mengikuti `sirat al-mustaqim`. Apakah kita telah memanfaatkan petunjuk yang Allah berikan? Kita dipanggil untuk terus berjuang di jalan ini, mengetahui bahwa meski panggilan itu umum, taufik untuk benar-benar berjalan di atasnya adalah karunia dari Allah. Dalam menghadapi kehilangan atau kesuksesan (`life-experience triggers`), ayat ini menjadi diagnosis spiritual (`spiritual diagnosis`). Ketika dunia terasa hampa, kita diundang untuk kembali kepada panggilan Allah, mencari taufik-Nya untuk tetap teguh di jalan lurus Islam, yang pada akhirnya mengarah pada kedamaian sejati `Dar al-Salam`. Ini adalah kesempatan untuk memperbaharui komitmen kita dan mengarahkan kembali semua upaya kita agar sejalan dengan kehendak Ilahi, seperti yang ditekankan oleh Israr Ahmad dalam kaitannya dengan ayat sebelumnya.
Sumber: Israr Ahmad (Bayan ul Quran), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Munir (Wahba al-Zuhayli), Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran), Tazkirul Quran
Koneksi
Ayat mulia ini, Surah Yunus ayat 25, datang sebagai panggilan yang mengharukan dari Allah kepada seluruh manusia. Mari kita dalami maknanya, melihat bagaimana ia terhubung dengan ayat-ayat sebelumnya dan memberikan petunjuk penting bagi perjalanan hidup kita.
Panggilan Menuju Kedamaian Abadi
Sebelum ayat ini, Al-Quran telah menggambarkan dengan begitu indah namun tegas tentang betapa cepatnya kehidupan dunia berlalu dan segala kemewahannya menghilang. Ayat 10:24, misalnya, melukiskan kehidupan dunia bagai tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, membuat penghuninya gembira, lalu tiba-tiba binasa seolah tak pernah ada.
Dalam konteks inilah, Allah kemudian berfirman, "وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ" ( `Wa-Allahu yad'u ila Dari al-Salam` – Dan Allah menyeru (manusia) ke Dar as-Salam). Ini adalah hubungan yang mendalam. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Biqa'i, setelah memperingatkan tentang dunia yang penuh bencana dan fana, Allah kemudian menjelaskan tentang tempat tinggal yang Dia serukan, yaitu `Dar as-Salam` (`دارِ السَّلَٰمِ`). Tempat ini aman dari segala kesulitan, kesedihan, dan penyakit, serta abadi tanpa lenyap. Seolah Allah menawarkan penawar, alternatif yang kekal dan damai setelah memperlihatkan ketidakpastian dunia.
`Dar as-Salam` adalah nama lain untuk surga. Para ulama tafsir seperti Tantawi menjelaskan bahwa nama ini diberikan karena ia adalah tempat di mana penghuninya selamat dari segala rasa sakit dan malapetaka. Di sana, sapaan mereka adalah kedamaian (`salam`), atau karena `As-Salam` (`السَّلَٰمِ`) adalah salah satu nama Allah, sehingga penyebutannya secara khusus ini adalah untuk mengagungkan dan menghormati kemuliaan surga.
Ajakan dan Petunjuk Ilahi
Ayat ini melanjutkan, "وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ" (`wa yahdi man yasha'u ila Siratin Mustaqim` – dan Dia memberi petunjuk orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus). Di sini, al-Biqa'i membuat perbedaan penting: ajakan (`ad-da'wah`) menuju surga melalui penjelasan yang jelas bersifat umum bagi semua orang. Namun, petunjuk (`al-hidayah`) menuju `Sirat al-Mustaqim` (`صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ`), atau Jalan yang Lurus, adalah khusus, diberikan kepada siapa yang Allah kehendaki, karena inilah jalan yang mengantarkan kepada Sang Pemberi Nikmat.
`Sirat al-Mustaqim` adalah agama yang benar, yaitu Islam, yang akan membawa seseorang menuju keridhaan dan ampunan Allah, sebagaimana diuraikan oleh Tantawi. Ini adalah jalan yang terang, yang tidak menyimpang.
Panggilan Allah ini bertentangan dengan ajakan setan. Tantawi secara implisit menafsirkan bahwa setan mengajak manusia untuk memilih kesenangan dunia dan perhiasannya yang fana, sedangkan Allah Yang Maha Tinggi menyeru seluruh manusia kepada keimanan sejati yang akan mengantarkan mereka ke tempat kemuliaan-Nya.
Memahami Dua Panggilan
Hubungan dengan ayat selanjutnya (10:26) juga sangat erat, karena ayat ini menjadi pendahuluan untuk menjelaskan balasan bagi mereka yang menerima panggilan dan petunjuk Allah. Al-Biqa'i menjelaskan bahwa setelah Allah memberitahukan tentang ajakan dan petunjuk ini, muncul pertanyaan: apakah semua orang akan menerima balasan yang sama? Maka dijawablah di ayat berikutnya bahwa tidak, mereka adalah dua kelompok: "bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (di dunia) akan mendapatkan kebaikan (`al-Husna`) dan tambahan (`ziyadah`)".
Jadi, ayat ini adalah inti dari tawaran Ilahi: sebuah undangan universal menuju kedamaian abadi, disertai dengan petunjuk khusus bagi mereka yang memilih untuk menanggapi, mengarahkan mereka ke Jalan Lurus yang mengantar kepada kebahagiaan sejati. Ini adalah seruan untuk mempertimbangkan keabadian di atas kefanaan, dan petunjuk untuk mencapainya.
Sumber: al-Wasit (Tantawi), al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)
Hikmah
Ayat yang mulia ini membawa kita dari gambaran kesementaraan hidup duniawi, yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya, menuju seruan agung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini adalah undangan untuk merenungkan makna keberadaan kita dan tujuan sejati dari perjalanan hidup ini.
Undangan Agung dari Allah
Allah Yang Maha Kuasa berfirman, `وَٱللَّهُ يَدْعُوٓا۟ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ` (Dan Allah menyeru (manusia) ke `Dar al-Salam`). Ayat ini adalah undangan universal dari Allah kepada seluruh manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti al-Qurtubi dan al-Munir, Allah tidak memanggil kita untuk mengejar dan mengumpulkan dunia, melainkan memanggil kita kepada ketaatan agar kita dapat mencapai `Dar al-Salam`.
Apakah `Dar al-Salam` itu? Ia adalah Surga, sebuah tempat yang dinamakan demikian karena kedamaian dan keamanan mutlaknya. Di sana, seorang hamba akan selamat dari segala bahaya, penyakit, duka, dan kepedihan. Mufti Shafi'i dalam `Ma'arif al-Quran` juga menjelaskan bahwa nama ini merujuk pada ketenangan abadi yang ada di Surga, dan penduduknya akan senantiasa menerima salam dari Allah dan para malaikat.
Jalan Lurus Menuju Kedamaian
Setelah undangan umum ini, Allah melanjutkan dengan firman-Nya, `وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ` (dan Dia membimbing orang yang Dia kehendaki ke `Sirat al-Mustaqim`, jalan yang lurus). Meskipun undangan ke `Dar al-Salam` bersifat umum untuk semua, bimbingan (`هداية`, `hidayah`) menuju `Sirat al-Mustaqim` adalah hak istimewa yang diberikan Allah kepada siapa yang Dia kehendaki. Para ulama seperti Ibn al-Jawzi dan al-Munir menekankan perbedaan antara `دعوة` (`da'wah`, seruan umum) dan `هداية` (`hidayah`, petunjuk khusus).
`Sirat al-Mustaqim` ini adalah jalan yang tidak bengkok dan tidak berliku. Ia merujuk pada ajaran Islam, kitab Allah (Al-Quran), dan kebenaran itu sendiri. Ini adalah jalan yang membawa kita pada ketaatan kepada perintah-perintah Allah, sehingga kita dapat mencapai `Dar al-Salam`.
Pelajaran untuk Kehidupan Kita
Ayat ini memberikan pelajaran mendalam bagi kita. Setelah mengingatkan akan fana-nya dunia, Allah dengan lembut menarik perhatian kita kepada tujuan yang lebih besar, yaitu kedamaian abadi. Ini adalah ajakan untuk mengatur ulang prioritas hidup kita. Apakah kita sibuk mengejar kesenangan duniawi yang sementara, ataukah kita sedang menanggapi undangan Allah menuju rumah kedamaian yang kekal?
Nasihat Yahya ibn Mu'adh, seperti yang dikutip oleh al-Qurtubi dan Mufti Shafi'i, sangatlah menyentuh: "Wahai anak Adam! Allah mengundangmu ke `Dar al-Salam`. Kapan dan dari mana engkau akan menjawab panggilan Ilahi ini? Jika engkau mulai berusaha menjawab undangan ini selagi engkau masih di dunia, engkau akan berhasil. Namun, jika engkau menyia-nyiakan tahun-tahun hidupmu di sini, lalu terbaring di kuburan, dan baru berpikir untuk mengikuti panggilan ini, engkau akan dihentikan."
Maka, pelajaran umum bagi kita adalah: setiap hari adalah kesempatan untuk menjawab panggilan Allah. Dengan ketaatan, dengan mengikuti `Sirat al-Mustaqim`, dan dengan terus memohon hidayah-Nya, kita sedang melangkah menuju `Dar al-Salam`, tempat kedamaian sejati yang Allah janjikan.
Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Munir (Wahba al-Zuhayli), al-Saadi (Taysir al-Karim)
Topik yang membahas ayat ini
Ayat ini dibahas dalam 10 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).
Renungkan ayat ini
Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.