Surat Ad-Duha Ayat 5

سُورَةُ الضُّحَىٰ · Makkiyah · Ayat 5 dari 11

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ

Terjemahan

Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Surah Ad-Duha, dengan kelembutan dan janji-janji ilahi, tiba sebagai pelipur lara bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di masa-masa sulit. Pada ayat kelima, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ (وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ). Ini adalah janji yang agung, ditujukan kepada Nabi, yang melampaui segala duka dan kesempitan dunia. Mari kita selami keindahan pilihan katanya.

Janji yang Pasti

Ayat ini dibuka dengan `وَلَسَوْفَ` (`walasawfa`), sebuah kombinasi huruf yang penuh makna. Huruf `و` (`waw`) di sini berfungsi sebagai penghubung, sementara `لَ` (`la`) adalah `lam al-ibtidā'` atau `lam al-qasam`, yaitu huruf penegas yang menambah kekuatan pada janji ini. Para ulama, seperti Imam al-Zamakhshari dan Imam al-Razi, menjelaskan bahwa `lam` ini menekankan kepastian janji tersebut. Kemudian, ada `سَوْفَ` (`sawfa`), sebuah partikel yang menunjukkan waktu yang akan datang, tetapi dengan nuansa penundaan.

Ketika `لَ` dan `سَوْفَ` digabungkan, maknanya menjadi sangat kuat: apa yang dijanjikan itu pasti akan terjadi, tanpa keraguan sedikit pun, meskipun mungkin ada penundaan. Penundaan ini bukan karena Allah lupa atau tidak mampu, melainkan karena ada hikmah dan kebaikan di baliknya, yang Allah lebih mengetahuinya. Ibn Ashur menambahkan bahwa `سَوْفَ` di sini juga mengandung makna keberlanjutan, menunjukkan bahwa pemberian ini akan terus-menerus mengalir tanpa terputus.

Anugerah dari Tuhanmu

Kemudian datanglah `يُعْطِيكَ رَبُّكَ` (`yu'ṭīka Rabbuka`), yang berarti "Tuhanmu akan memberimu." Imam Ibn Ashur menyoroti bahwa objek pemberian di sini tidak disebutkan secara spesifik. Ini bukan kekurangan, melainkan sebuah gaya bahasa yang disebut `hadhf al-maf'ul` (penghilangan objek) yang dimaksudkan untuk mencakup *segala sesuatu*. Artinya, Allah akan memberikan kepada Nabi Muhammad segala kebaikan yang ia harapkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk umatnya. Ini adalah janji yang universal, mencakup kemenangan di dunia, limpahan pahala, dan kemuliaan di akhirat.

Pemilihan nama `رَبُّكَ` (`Rabbuka` - Tuhanmu) dan bukan nama `Allah` secara langsung, juga sangat berarti. `Rabb` memiliki konotasi pemelihara, pengasih, dan pelindung. Kata ini, yang dihubungkan dengan `كَ` (`ka` - milikmu), menunjukkan kedekatan, kasih sayang, dan perhatian khusus Allah kepada Nabi-Nya. Ini adalah sentuhan pribadi yang penuh kehangatan, menegaskan bahwa Pemelihara yang Maha Pengasih akan menganugerahkan kepada hamba-Nya yang tercinta.

Hingga Engkau Ridha

Ayat ini diakhiri dengan `فَتَرْضَىٰٓ` (`fatarḍā`), yang berarti "sehingga engkau akan puas/ridha." Huruf `فَ` (`fa`) di sini adalah `fa at-ta'qīb`, yang menunjukkan konsekuensi langsung atau kepuasan yang segera menyertai pemberian tersebut. Artinya, pemberian Allah itu begitu sempurna dan sesuai dengan keinginan Nabi, sehingga ia akan langsung merasa ridha dan bahagia.

Para ulama, seperti Imam al-Jalalayn dan Imam al-Razi, banyak mengaitkan janji keridhaan ini dengan syafaat (pertolongan) Nabi Muhammad kepada umatnya di Hari Kiamat. Sebuah riwayat masyhur menyebutkan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad berkata, "Kalau begitu, aku tidak akan ridha jika ada satu pun dari umatku yang berada di neraka." Ini menunjukkan betapa luasnya keridhaan Nabi, yang tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keselamatan umatnya. Janji ini adalah penegasan bahwa Allah akan memenuhi segala keinginan mulia Nabi, terutama terkait dengan ampunan bagi mereka yang bertauhid dari umatnya.

Melalui pilihan kata yang begitu cermat, ayat ini bukan hanya sebuah janji, tetapi juga cerminan kasih sayang ilahi yang tak terbatas dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad yang begitu agung.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn, al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 3 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani