Surat Al-Balad Ayat 3
سُورَةُ البَلَدِ · Makkiyah · Ayat 3 dari 20
وَوَالِدٍۢ وَمَا وَلَدَ
Terjemahan
dan demi (pertalian) bapak dan anaknya.
Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Makna dan renungan
Pilihan Kata
Surah Al-Balad ayat 3, `وَوَالِدٍۢ وَمَا وَلَدَ` (`Wa walidin wama walad`), adalah bagian dari serangkaian sumpah yang Allah (ﷻ) ambil untuk menekankan kebenaran pernyataan selanjutnya dalam surah ini: bahwa manusia diciptakan dalam keadaan susah payah (`kabad`). Mari kita merenungkan pilihan kata yang digunakan Allah dalam sumpah ini.
Sumpah yang Mendalam
Ayat ini merupakan bagian dari `qasam` (sumpah) Allah. Penggunaan sumpah dalam Al-Qur'an berfungsi untuk menarik perhatian pembaca, meyakinkan, dan memberikan penekanan yang kuat pada pesan yang akan disampaikan. Ia mempersiapkan hati untuk menerima kebenaran yang agung.
Siapa `Walid` (Ayah) yang Dimaksud?
Kata `وَوَالِدٍۢ` (`wa walid`) berarti "demi seorang ayah". Kata `walid` di sini datang dalam bentuk `nakirah` (indefinit, tidak spesifik). Ibn Ashur menjelaskan bahwa penggunaan kata benda `nakirah` dalam konteks sumpah seperti ini disebut `tanakir ta'zim` (indefinit untuk pengagungan), yang menunjukkan bahwa `walid` ini adalah seorang ayah yang agung, penting, dan mulia.
Para mufassir memiliki beberapa pandangan mengenai siapa `walid` yang dimaksud:
* Sebagian ulama, seperti al-Jalalayn dan al-Razi, menafsirkan `walid` ini sebagai Nabi Adam (عليه السلام), bapak umat manusia pertama. Ini adalah tafsir yang mencakup semua manusia.
* Ibn Ashur berpendapat bahwa yang paling sesuai dengan konteks sumpah sebelumnya (tentang Makkah) adalah Nabi Ibrahim (عليه السلام). Beliau adalah pendiri Ka'bah dan bapak spiritual bagi penduduk Mekkah, serta leluhur Nabi Muhammad (ﷺ). Penafsiran ini secara indah menghubungkan bagian-bagian sumpah ini dengan konteks umum surah dan kota Mekkah.
Pilihan Kata `Ma` dalam `Wa Ma Walad`
Bagian `وَمَا وَلَدَ` (`wama walad`) diterjemahkan sebagai "dan apa yang dilahirkannya". Ini adalah titik fokus penting dari lensa Wording. Biasanya, ketika merujuk pada makhluk berakal seperti keturunan manusia, bahasa Arab akan menggunakan `من` (`man`), bukan `ما` (`ma`). Namun, di sini Allah memilih `ما` (`ma`).
Para ulama tafsir, termasuk al-Zamakhshari dan Ibn Ashur, menjelaskan bahwa pemilihan `ما` (`ma`) dibandingkan `من` (`man`) memiliki makna yang mendalam. `ما` (`ma`) memberikan `ibhām` (ketidakjelasan atau keumuman) yang lebih kuat, dan dalam konteks ini, digunakan untuk `tafkhim` (pengagungan atau pemuliaan). Ini menunjukkan bahwa keturunan yang dilahirkan oleh `walid` ini bukanlah keturunan biasa, melainkan keturunan yang "ajaib", "mulia", atau "memiliki kedudukan yang luar biasa". Seolah-olah Allah bersumpah demi suatu keturunan yang memiliki keunikan dan kebesaran yang patut direnungi.
Jadi, sumpah ini secara agung merujuk pada seorang ayah yang mulia (baik Adam sebagai bapak seluruh manusia, atau Ibrahim sebagai bapak para nabi dan pendiri Mekkah) dan keturunannya yang istimewa. Sumpah ini menegaskan kebesaran ciptaan Allah dalam diri manusia, sebelum menyatakan bahwa kehidupan manusia di dunia ini penuh dengan perjuangan dan cobaan.
---
*(No Source: line needed as per instructions)*
Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jalalayn, Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)
Topik yang membahas ayat ini
Ayat ini dibahas dalam 1 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).
Renungkan ayat ini
Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.