Surat Al-Buruj Ayat 22

سُورَةُ البُرُوجِ · Makkiyah · Ayat 22 dari 22

فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ

Terjemahan

yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauḥ Maḥfūẓ).

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Ayat ini, "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" (`fi lawhin mahfuzin`), adalah penegasan yang kuat setelah Allah menolak klaim orang-orang kafir yang menyebut Al-Quran sebagai sihir atau perkataan penyair. Ayat ini menegaskan status dan asal mula Al-Quran, membawa ketenangan bagi Nabi Muhammad dan kaum beriman.

Tentang Kata-katanya

Frasa "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" berarti "dalam Lauh (Lembaran) yang terpelihara." Mari kita telaah setiap kata:

`Lawh` (لوح): Secara harfiah, `lawh` merujuk pada lembaran atau papan, seperti papan kayu tempat menulis (Ibn Ashur). Namun, dalam konteks Al-Quran ini, para ulama menjelaskan bahwa `Lawh` yang dimaksud bukanlah sembarang papan. Ini adalah sebuah entitas mulia di alam ghaib, di atas langit ketujuh, dan Al-Quran tertulis di dalamnya. Imam al-Jalalayn menyebutnya sebagai "di udara di atas langit ketujuh" dan terbuat dari mutiara putih, sebuah wujud yang suci dan tinggi.

`Mahfuz` (محفوظ): Kata `mahfuz` berarti "terpelihara," "terjaga," atau "terlindungi." Dalam ayat ini, kata ini bisa dibaca dengan dua cara yang sah (qira'at) yang semuanya memberikan makna yang dalam:
1. `mahfuzin` (dengan `kasra`), menjadi sifat dari `Lawh` itu sendiri. Ini berarti Lauh-nya lah yang terpelihara.
2. `mahfuzun` (dengan `damma`), menjadi sifat dari "Quran" yang disebutkan pada ayat sebelumnya (Surah 85:21, "بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ"). Ini berarti Al-Quran itu sendiri yang terpelihara.

Kedua makna ini saling menguatkan. Baik Lauh tempat Al-Quran tertulis maupun Al-Quran itu sendiri, keduanya "terpelihara." Terpelihara dari apa? Para ulama seperti al-Zamakhshari, al-Jalalayn, dan Ibn Ashur menjelaskan bahwa `mahfuz` berarti terlindungi dari segala bentuk perubahan, penyimpangan, penambahan, atau pengurangan. Ia juga terjaga dari jangkauan setan atau makhluk lain selain para malaikat yang ditugaskan. Ini menegaskan janji Allah dalam Surah Al-Hijr, "إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ" (Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya).

Mengapa Ini Penting bagi Kita

Pemilihan kata "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" memiliki implikasi yang mendalam:

1. Asal-usul Ilahi: Kata `lawh` di sini menekankan bahwa Al-Quran bukanlah buatan manusia, bukan hasil karangan Nabi Muhammad, dan bukan pula sihir atau perkataan dukun, seperti yang dituduhkan oleh orang-orang kafir. Ia berasal langsung dari Sumber Ilahi yang terpelihara.

2. Keaslian dan Kekekalan: Penegasan "terpelihara" memberikan jaminan mutlak atas keaslian dan kemurnian Al-Quran. Ini adalah perkataan Allah yang tidak akan pernah berubah atau dirusak, sebuah kebenaran yang abadi dan sempurna. Seperti yang disebutkan oleh Imam al-Razi, ini adalah salah satu sumber terbesar ketenangan hati (`tasliyah`) bagi Rasulullah dan umatnya, mengetahui bahwa pedoman hidup mereka tak tergoyahkan.

3. Kemuliaan Al-Quran: Keterkaitan Al-Quran dengan `Lauh Mahfuz` juga meninggikan statusnya. Ia adalah kalam yang mulia, tidak hanya dalam kandungan maknanya tetapi juga dalam asal-usul dan perlindungannya, menjadikannya "terhormat, tinggi kedudukannya" (al-Zamakhshari).

Dengan demikian, ayat yang singkat ini memberikan landasan keyakinan yang kokoh bagi setiap Muslim akan kemuliaan, keaslian, dan perlindungan abadi Al-Quran.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Dunia Al-Qur'an

Sebelum kita mendalami ayat ini, mari kita pahami konteksnya. Surah Al-Buruj ini diturunkan di Makkah, pada masa awal dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Ayat-ayat sebelumnya menyinggung kisah kaum zalim di masa lalu, seperti Firaun dan Tsamud, yang mengingkari para nabi dan akhirnya diazab. Ini adalah bentuk hiburan bagi Nabi ﷺ dan peringatan bagi kaum musyrik Quraisy yang saat itu terus mendustakan beliau dan Al-Qur'an. Mereka bahkan menuduh Al-Qur'an adalah sihir atau syair.

Maka, dalam suasana penolakan dan pengingkaran tersebut, datanglah ayat 22 yang menegaskan kembali kemuliaan Al-Qur'an setelah ayat 21 menyatakan "بل هو قرآن مجيد" (`bal huwa Qur'anun Majid`, "bahkan ia adalah Al-Qur'an yang mulia"). Ayat ini (85:22) melanjutkan dengan pernyataan: "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" (`fi lawhin mahfuzin`).

Makna Ayah Ini

Ayat ini berbicara tentang kedudukan Al-Qur'an yang sangat agung. Allah menyatakan bahwa Al-Qur'an berada "di Lauh Mahfuzh" (`fi lawhin mahfuzin`). `Lauh` secara harfiah berarti "papan" atau "lembaran", sementara `Mahfuzh` berarti "terpelihara" atau "terjaga". Jadi, `Lauh Mahfuzh` adalah sebuah "Lembaran yang Terpelihara".

Ini adalah pernyataan Allah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan, melalui beliau, kepada seluruh umat manusia. Tujuannya adalah untuk menghilangkan keraguan tentang keaslian Al-Qur'an dan menegaskan bahwa ia bukan buatan manusia, melainkan Kalam Allah yang sempurna.

Al-Qur'an dalam Alam Gaib

Konsep `Lauh Mahfuzh` membawa kita ke `World of Creation` dan `World of Revelation`. Para ulama tafsir, seperti Sayyid Qutb, menjelaskan bahwa `Lauh Mahfuzh` adalah perkara gaib, yang hakikatnya hanya Allah yang tahu. Namun, melalui keterangan dari para sahabat seperti Ibn Abbas, kita mendapatkan gambaran tentang keagungannya.

Disebutkan bahwa `Lauh Mahfuzh` adalah lembaran yang terbuat dari mutiara putih, ukurannya sangat besar, membentang antara langit dan bumi, dari timur ke barat. Pena-nya adalah cahaya, dan tulisannya juga cahaya. Semua takdir, segala sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi, termasuk Al-Qur'an ini, telah tertulis di dalamnya. Seperti yang dijelaskan oleh Ibn Kathir, ia ada di "perhimpunan tertinggi" (`al-mala' al-a'la`), di dekat Arasy Allah. Gambaran ini membantu kita membayangkan betapa agung dan sucinya sumber Al-Qur'an.

Mengapa Terpelihara?

Al-Qur'an disebut "terpelihara" karena ia dijaga dari segala bentuk perubahan, penambahan, pengurangan, atau penyimpangan. Ini adalah jaminan langsung dari Allah, sebagaimana firman-Nya di surah Al-Hijr ayat 9, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

Pemeliharaan ini, seperti yang dijelaskan oleh al-Razi, juga berarti bahwa Al-Qur'an itu tidak dapat diubah ketetapannya, baik mengenai kebahagiaan atau kesengsaraan suatu kaum. Ini menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran yang final dan tidak dapat dibantah.

Pemeliharaan Al-Qur'an di `Lauh Mahfuzh` ini memberikan ketenangan dan kepastian bagi hati orang-orang beriman. Dalam dunia yang penuh dengan keraguan dan perubahan, Al-Qur'an berdiri kokoh sebagai Firman Allah yang abadi dan tak tersentuh, sumber hidayah yang tak pernah keliru. Ia adalah bukti yang nyata tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Sumber: al-Baghawi (Maalim al-Tanzil), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Quran), Ibn Kathir, al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Koneksi

Ayah ini, "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" (`fī lawḥin maḥfūẓin`), datang sebagai penegasan yang agung mengenai sumber Al-Quran. Ini adalah pernyataan dari Allah sendiri, yang menanggapi keraguan orang-orang yang ingkar tentang kitab suci ini, setelah Allah mengisahkan hukuman-Nya terhadap umat-umat yang mendustakan para nabi sebelumnya. Nada ayat ini adalah pengukuhan dan jaminan yang kokoh.

Makna Ayah Ini

Secara harfiah, `lawḥin` (لوح) berarti lembaran atau papan, dan `maḥfūẓin` (محفوظ) berarti terpelihara atau terjaga. Jadi, "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" berarti "di dalam lembaran yang terpelihara". Ini merujuk pada sebuah catatan ilahi yang keberadaannya tidak dapat kita bayangkan sepenuhnya, karena ia adalah bagian dari alam gaib. Seperti yang dijelaskan oleh al-Wasit, kita mengimani keberadaannya namun menyerahkan pengetahuan hakikatnya kepada Allah semata.

Keterkaitan Langsung

Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (85:21), yang berbunyi: "بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٌ مَّجِيۡدٌ" (`Bal huwa Qur'ānun Majīd`, Bahkan, ia adalah Al-Quran yang mulia). Jadi, kemuliaan Al-Quran itu (`Majīd`) dijelaskan oleh fakta bahwa ia berada "di dalam lembaran yang terpelihara". Keterkaitan ini berarti Al-Quran itu mulia dan terjaga dari segala bentuk perubahan, penambahan, pengurangan, atau distorsi, sebagaimana ditegaskan oleh al-Sabuni.

Hubungan dalam Surah Al-Buruj

Surah Al-Buruj dimulai dengan sumpah demi langit yang memiliki gugusan bintang (`wal-samā'i dhāt al-burūj`) dan hari yang dijanjikan (hari Kiamat), kemudian menceritakan kisah Ashabul Ukhdud, kaum beriman yang dibakar hidup-hidup oleh penguasa zalim. Surah ini menekankan keadilan ilahi, bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh untuk membinasakan musuh-musuh-Nya dan membalas orang-orang beriman.

Para ulama seperti al-Biqa'i menjelaskan bagaimana penutup surah ini berjalin erat dengan pembukaannya, seolah-olah "untaian mutiara" yang saling terhubung. Pernyataan bahwa Al-Quran berada `fī lawḥin maḥfūẓin` mengukuhkan bahwa segala yang terkandung di dalamnya, janji-janji Allah tentang hukuman bagi yang zalim dan pahala bagi yang beriman, kebenaran tentang hari kebangkitan, adalah mutlak dan tidak akan berubah. Karena sumbernya adalah `Lawh Mahfuz` yang sempurna dan terjaga, maka tidak ada keraguan sedikit pun bahwa semua yang diberitakan dalam Al-Quran akan terjadi. Ini juga sejalan dengan pembukaan surah yang menyebut `burūj` (gugusan bintang), yang juga terjaga di langit, menunjukkan ketelitian dan pemeliharaan ilahi atas seluruh ciptaan-Nya, dan Al-Quran bahkan lebih utama untuk dipelihara.

Gema dalam Al-Quran

Konsep `Lawh Mahfuz` juga beresonansi dengan istilah lain dalam Al-Quran, seperti `al-Kitāb al-Mubīn` (الكتاب المبين, Kitab yang Jelas) dan `Imām Mubīn` (إمام مبين, Catatan yang Jelas), seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali (dikutip oleh al-Biqa'i). Ini menunjukkan konsistensi dalam cara Al-Quran menggambarkan sumber ilahinya, sebagai catatan segala sesuatu yang telah dan akan terjadi, yang sepenuhnya berada dalam ilmu dan penjagaan Allah.

Dengan demikian, "فِى لَوْحٍۢ مَّحْفُوظٍۭ" bukan sekadar deskripsi teknis, melainkan sebuah jaminan mendalam bagi kita bahwa firman Allah ini adalah kebenaran yang tak tergoyahkan, abadi, dan datang dari Sumber Kemuliaan yang tiada tara.

Sumber: al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Wasit (Tantawi), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 2 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani