Surat Al-Waqi'ah Ayat 78

سُورَةُ الوَاقِعَةِ · Makkiyah · Ayat 78 dari 96

فِى كِتَٰبٍۢ مَّكْنُونٍۢ

Terjemahan

dalam Kitab yang terpelihara (Lauḥ Maḥfūẓ),

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Setiap kali kita membaca Al-Qur'an, kita tidak hanya membaca kata-kata, tetapi mendengar firman langsung dari Pencipta kita. Surah Al-Waqi'ah ayat 78 ini mengangkat tirai untuk memperlihatkan keagungan sumber Al-Qur'an, yang sering kali diremehkan oleh mereka yang menolaknya. Allah berfirman tentang Al-Qur'an, "فِى كِتَٰبٍۢ مَّكْنُونٍۢ" (fi Kitabin Maknun). Ini adalah pernyataan langsung dari Allah tentang hakikat Al-Qur'an, yang ditujukan kepada manusia yang terkadang ragu akan keotentikannya.

Makna 'Kitab Maknun'

Kata "كِتَٰبٍۢ" (`kitab`) dalam konteks ini, sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir seperti Imam Fakhruddin al-Razi dan Ibn Ashur, bukanlah sekadar buku biasa yang kita pegang. Makna yang paling kuat merujuk pada `Al-Lawh Al-Mahfuzh` (Loh Mahfuzh atau Kitab yang Terpelihara). Ini adalah tempat di mana segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi, serta seluruh wahyu ilahi, telah tertulis secara sempurna di sisi Allah. Al-Qur'an yang kita baca adalah salinan yang diturunkan dari `Kitab` agung ini.

Kemudian, ada kata "مَّكْنُونٍۢ" (`maknun`). Akar kata `كنن` (`kanna`) berarti tersembunyi, terjaga, atau tersimpan. Imam al-Razi menjelaskan bahwa sesuatu yang `maknun` adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga tidak hanya dipelihara (`mahfuzh`), tetapi juga disembunyikan (`mastur`) dari pandangan. Sama seperti mutiara yang berharga disimpan dan dilindungi dengan cermat agar tidak rusak dan tetap murni, Al-Qur'an di sumbernya yang ilahi (`Al-Lawh Al-Mahfuzh`) dijaga dengan penjagaan mutlak dari segala bentuk perubahan, campur tangan, atau kekotoran. Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an bukanlah buatan manusia, bukan puisi seorang penyair, atau sihir seorang dukun, melainkan firman Allah yang murni dan sempurna.

Implikasi untuk Kita

Pilihan kata `maknun` mengajarkan kita tentang kemuliaan dan kesucian Al-Qur'an. Ini bukan teks biasa; ia berasal dari sumber yang murni, tersembunyi, dan terjaga di sisi Allah. Pemahaman ini harus menumbuhkan dalam diri kita rasa hormat dan takzim yang mendalam setiap kali kita berinteraksi dengannya. Al-Qur'an adalah harta terpendam yang diturunkan kepada kita.

Sebagaimana `Al-Lawh Al-Mahfuzh` hanya dapat diakses oleh makhluk yang disucikan (malaikat), demikian pula Al-Qur'an di tangan manusia selayaknya didekati dengan kesucian. Meskipun ayat ini secara harfiah merujuk pada sumber ilahi Al-Qur'an, para ulama seperti Ibn Ashur menghubungkannya dengan adab kita saat menyentuh Al-Qur'an yang tertulis. Sikap bersih dan suci (dari `hadats` kecil maupun besar, dan dari `syirik`) saat menyentuh mushaf menjadi cerminan dari penghormatan terhadap kemurnian sumber ilahinya. Ini adalah pengingat bahwa kita sedang memegang sesuatu yang agung, yang pantas mendapatkan penghormatan tertinggi dari hati dan perbuatan kita.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Razi (Mafatih al-Ghayb)

Koneksi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudaraku yang kucintai, mari kita renungkan ayat yang mulia ini, Surah Al-Waqi'ah ayat 78: `فِى كِتَٰبٍۢ مَّكْنُونٍۢ` (`fī kitābin maknūn`).

Ayat ini adalah deskripsi lebih lanjut tentang Al-Qur'an yang agung, setelah ayat sebelumnya (56:77) menyebutnya sebagai `إِنَّهُۥ لَقُرْءَانٌ كَرِيمٌ` (Sungguh, ia adalah Al-Qur'an yang mulia). Mari kita selami maknanya melalui lensa keterkaitan.

Tempat Keabadian Al-Qur'an

Kata `كِتَٰبٍۢ` (`kitāb`) berarti "kitab" atau "tulisan", dan `مَّكْنُونٍۢ` (`maknūn`) berarti "tersembunyi" atau "terpelihara". Jadi, Al-Qur'an yang mulia ini berada `fī kitābin maknūn`, di dalam sebuah kitab yang terpelihara dengan sangat rapi dan mulia.

Al-Biqa'i menjelaskan bahwa `كِتَٰبٍۢ` merujuk pada bentuk tulisan yang sangat kokoh dan stabil. Adapun `مَّكْنُونٍۢ` menekankan nilai dan ketinggiannya. Ini bukan hanya tentang satu bentuk, melainkan mencakup berbagai cara pemeliharaan Al-Qur'an: ia terpelihara di `Lawh al-Mahfuz` (Loh Mahfuz) di langit, di hati-hati yang mulia (para penghafal) di bumi, dan dalam `musahif` (naskah-naskah Al-Qur'an) yang disucikan. Semuanya terjaga dari perubahan dan penggantian.

Mengapa Disebut "Terpelihara"?

Konteks ayat ini sangat penting. Kaum musyrikin saat itu menuduh bahwa Al-Qur'an ini dibawa oleh setan. Allah membantah keras tuduhan itu dengan menegaskan asal usul Al-Qur'an yang murni dan terpelihara. Seperti yang dijelaskan oleh Tantawi, tujuan ayat ini adalah untuk menyangkal klaim mereka.

Dengan menyebutnya `fī kitābin maknūn` – di dalam kitab yang tersembunyi dan hanya diketahui oleh Allah dan para malaikat pilihan-Nya sebelum diturunkan – Allah menunjukkan kesucian dan kemuliaan sumber Al-Qur'an. Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan berasal dari sumber-sumber rendah seperti setan, melainkan dari `Lawh al-Mahfuz` yang dijaga ketat.

Keterkaitan dengan Ayat Lain

Makna ini diperkuat oleh ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an, sebuah bentuk `Tafsir al-Qur'an bi-l-Qur'an` (penafsiran Al-Qur'an oleh Al-Qur'an itu sendiri). Tantawi mengaitkan ayat ini dengan Surah Asy-Syu'ara (26:192-195) yang menyatakan, `وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُنذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِىٍّۢ مُّبِينٍۢ` (Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas). Juga dengan Surah Asy-Syu'ara (26:210-212) yang secara eksplisit menolak peran setan. Ini menegaskan bahwa Jibril yang suci adalah pembawa risalah ini, bukan setan.

Ayat `فِى كِتَٰبٍۢ مَّكْنُونٍۢ` juga sangat serasi dengan ayat-ayat sebelumnya dalam Surah Al-Waqi'ah yang menjelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia, tumbuhan, air, dan api. Setelah menunjukkan keagungan kuasa-Nya dalam ciptaan, Allah kemudian menegaskan keagungan Firman-Nya, Al-Qur'an, yang juga merupakan bukti kekuasaan dan hikmah-Nya. Ini adalah `munasabah` (keterkaitan) yang indah, seperti yang dijelaskan oleh al-Sabuni, menunjukkan bagaimana semua argumen dalam surah ini saling mendukung untuk membuktikan keesaan Allah dan kebenaran wahyu-Nya.

Refleksinya bagi kita adalah betapa mulianya Al-Qur'an yang kita baca. Ia datang dari sumber yang paling suci dan terjaga, sebuah anugerah tak ternilai dari Allah. Mari kita mendekatinya dengan penghormatan yang sama, menjaga kesuciannya di hati dan dalam perilaku kita.

Sumber: al-Biqa'i (Nazm al-Durar), al-Wasit (Tantawi), al-Sabuni (Safwat al-Tafasir)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 4 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani