Surat Saba Ayat 2

سُورَةُ سَبَإٍ · Makkiyah · Ayat 2 dari 54

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ وَهُوَ ٱلرَّحِيمُ ٱلْغَفُورُ

Terjemahan

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dialah Yang Maha Penyayang, Maha Pengampun.

Terjemahan: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Makna dan renungan

Pilihan Kata

Surah Saba ayat 2 mengundang kita untuk merenungi kedalaman ilmu dan rahmat Allah. Ayat ini dimulai dengan gambaran yang memukau tentang pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, baik yang tersembunyi maupun yang nyata, di bumi dan di langit.

Ilmu Allah yang Menyeluruh

Allah berfirman, يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا (Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya). Perhatikanlah pemilihan kata-kata yang begitu presisi. Kata `yaliju` (masuk) menggambarkan sesuatu yang menembus atau menyusup, seperti air hujan yang meresap jauh ke dalam tanah, benih yang tertanam, atau bahkan harta karun dan orang mati yang terkubur, seperti yang disebutkan oleh al-Zamakhshari. Sebaliknya, `yakhruju` (keluar) mencakup segala yang tumbuh dari bumi, seperti tanaman, mata air, dan juga makhluk hidup yang bersembunyi di dalamnya.

Kemudian, Al-Quran mengarahkan pandangan kita ke langit. `Yanzilu` (turun) merujuk pada hujan, salju, petir, rezeki, dan para malaikat, sementara `ya'ruju` (naik) mencakup malaikat dan amal perbuatan manusia yang naik ke hadirat Allah. Ibn Ashur menjelaskan bahwa pilihan kata kerja khusus ini (`yaliju`, `yakhruju`, `yanzilu`, `ya'ruju`) adalah cara paling jelas dan tepat untuk menggambarkan segala keadaan di bumi dan langit, bukan sekadar yang bergerak di permukaan. Ini menunjukkan kemahatahuan Allah atas setiap detail, tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.

Urutan dan Pilihan Kata yang Mendalam

Ada keindahan dalam susunan ayat ini. Imam al-Razi mencatat mengapa Allah menyebut "apa yang masuk ke bumi" sebelum "apa yang turun dari langit". Ini seperti siklus kehidupan: benih ditanam di bumi terlebih dahulu, baru kemudian disirami air yang turun dari langit. Ini adalah isyarat tentang tatanan dan kebijaksanaan ilahi dalam setiap proses di alam semesta.

Lebih lanjut, al-Razi juga menyoroti perbedaan antara `ya'ruju fiha` (naik *ke dalam*nya) dan `ya'ruju ilayha` (naik *kepadanya*). Penggunaan `fiha` (ke dalamnya) untuk langit mengisyaratkan bahwa amal dan ruh tidak hanya mencapai batas langit, tetapi menembusnya, menembus lapisannya, menuju ke kedalaman yang tidak terbayangkan. Namun, ketika Al-Quran berbicara tentang `Kalim Tayyib` (perkataan yang baik) yang naik, ia menggunakan `ilayhi yas'adu al-kalim at-tayyib` (kepadanya perkataan yang baik naik), karena Allah adalah tujuan akhir, tidak ada tingkatan di atas-Nya. Pilihan kata ini memperkuat kesan bahwa langit adalah tempat perlintasan dan penembusan bagi segala yang naik, sementara Allah adalah puncak dan tujuan segala sesuatu.

Penutup Rahmat dan Ampunan

Ayat ini ditutup dengan وَهُوَ ٱلرَّحِيمُ ٱلْغَفُورُ (Dan Dialah Yang Maha Penyayang, Maha Pengampun). Setelah menggambarkan pengetahuan-Nya yang tak terbatas atas segala sesuatu yang masuk dan keluar, turun dan naik, Allah mengingatkan kita pada dua sifat-Nya yang agung. Imam al-Razi mengaitkan sifat `Ar-Rahim` (Maha Penyayang) dengan turunnya rezeki dari langit, dan `Al-Ghafur` (Maha Pengampun) dengan naiknya ruh dan amal perbuatan. Ini adalah janji bahwa rahmat-Nya mendahului hukuman-Nya, dan ampunan-Nya selalu terbuka bagi hamba-hamba-Nya. Ibn Ashur menjelaskan bahwa penyebutan ini berfungsi sebagai dorongan bagi manusia untuk mencari sebab-sebab rahmat dan ampunan, serta sebagai sindiran bagi orang-orang musyrik untuk bertaubat dari kesyirikan mereka.

Renungan atas ayat ini mengingatkan kita akan keagungan pencipta kita, yang tidak ada satu atom pun yang luput dari ilmu-Nya, dan yang senantiasa membuka pintu rahmat dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.

Sumber: al-Zamakhshari (al-Kashshaf), al-Razi (Mafatih al-Ghayb), Ibn Ashur (al-Tahrir wa al-Tanwir), al-Jalalayn, al-Jadwal fi I'rab al-Quran (Mahmud Safi)

Hikmah

Surah Saba ayat 2 (`يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۚ وَهُوَ ٱلرَّحِيمُ ٱلْغَفُورُ`) membuka jendela keagungan Allah dengan gambaran yang begitu luas, namun juga sangat personal. Ayat ini mengingatkan kita tentang pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Pengetahuan Allah yang Tak Terbatas

Ayat ini dimulai dengan pernyataan `يَعْلَمُ` (Ya`lamu), yang berarti "Dia mengetahui". Siapakah yang mengetahui? Tentu saja Allah, Rabb semesta alam. Pengetahuan-Nya tidak terbatas pada apa yang kita saksikan saja, melainkan jauh melampaui itu.

Ayat ini kemudian menjelaskan empat kategori pengetahuan Allah yang mencakup seluruh alam semesta:

1. `مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ` (apa yang masuk ke dalam bumi): Ini mencakup segala sesuatu yang kita masukkan ke dalam tanah, seperti benih yang kita tanam, tetesan air hujan yang meresap ke dalam bumi, harta karun yang terkubur, hingga jasad manusia setelah meninggal dunia. Bahkan rahasia yang kita kubur dalam-dalam pun, Allah mengetahuinya.
2. `وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا` (apa yang keluar darinya): Segala yang muncul dari bumi, seperti tanaman dengan berbagai bentuk dan warnanya, mata air yang memancar, logam dan mineral yang tersembunyi, serta berbagai jenis hewan yang hidup di atasnya, semuanya dalam pengetahuan Allah. Ini menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan dan mengeluarkan dari yang tidak ada.
3. `وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ` (apa yang turun dari langit): Ini tidak hanya berarti hujan atau salju, tetapi juga rezeki yang tak terhingga, para malaikat yang menjalankan perintah-Nya, kitab-kitab suci yang diturunkan, serta segala ketetapan atau takdir yang Allah tetapkan untuk makhluk-Nya.
4. `وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا` (apa yang naik kepadanya): Maksudnya adalah segala yang naik atau kembali ke langit. Ini mencakup amal perbuatan manusia, doa-doa kita, dan juga para malaikat yang naik turun untuk menyampaikan wahyu atau laporan. Al-Munir (Wahba al-Zuhayli) menambahkan bahwa bahkan uap air dan asap pun termasuk dalam hal yang naik ke langit.

Rahmat dan Ampunan-Nya

Setelah menggambarkan luasnya pengetahuan Allah, ayat ini ditutup dengan dua sifat-Nya yang agung: `وَهُوَ ٱلرَّحِيمُ ٱلْغَفُورُ` (dan Dialah Yang Maha Penyayang, Maha Pengampun). Al-Saadi menjelaskan bahwa rahmat dan ampunan ini adalah sifat-Nya yang terus menerus mengalir kepada hamba-hamba-Nya. Wahba al-Zuhayli menegaskan bahwa karena Allah Maha Penyayang, Dia tidak tergesa-gesa menghukum orang-orang yang durhaka, dan karena Dia Maha Pengampun, Dia senantiasa mengampuni dosa-dosa mereka yang bertobat dan bergantung kepada-Nya.

Pelajaran untuk Kita

Ayat ini mengajarkan kita sebuah pelajaran universal yang mendalam:

1. Kehadiran Allah yang Abadi: Pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu dari yang terkecil hingga terbesar, dari yang tersembunyi hingga yang terang, mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun gerak-gerik atau pikiran kita yang luput dari pandangan-Nya. Ini seharusnya menumbuhkan rasa malu dan takut untuk berbuat maksiat, serta semangat untuk selalu berbuat baik.
2. Ketenangan dalam Ketidaktahuan: Seringkali kita merasa cemas karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Namun, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengetahui segalanya. Kita bisa meraih ketenangan dengan menyerahkan urusan kita kepada-Nya, percaya sepenuhnya pada kebijaksanaan dan pengaturan-Nya.
3. Peluang untuk Bertobat: Meskipun Allah mengetahui setiap dosa dan kesalahan kita, Dia juga `الرَّحِيمُ الْغَفُورُ`. Ini adalah `qawā'id Qur'āniyyah` (kaidah Qurani) yang memberikan harapan besar bagi setiap hamba. Tidak peduli seberapa besar dosa kita, pintu tobat selalu terbuka. Pengetahuan Allah yang menyeluruh tidak bertujuan untuk mempermalukan kita, melainkan untuk menegaskan bahwa hanya Dia yang mampu mengampuni segala dosa dan kekurangan hamba-Nya.

Refleksi dari ayat ini seharusnya menginspirasi kita untuk hidup dengan kesadaran akan pengawasan Ilahi, senantiasa bersyukur atas rahmat-Nya, dan tidak pernah putus asa dari ampunan-Nya. Ini adalah ajakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan hati yang tulus dan penuh harap.

Sumber: al-Qurtubi (al-Jami li-Ahkam), Ma'arif al-Quran (Mufti Shafi), al-Saadi (Taysir al-Karim), Ibn al-Jawzi (Zad al-Masir), al-Munir (Wahba al-Zuhayli)

Topik yang membahas ayat ini

Ayat ini dibahas dalam 2 panduan studi tematik di Maani (panduan dalam bahasa Inggris).

Lihat semua topik Al-Quran

Renungkan ayat ini

Renungkan ayat ini di Maani melalui lima lensa: pilihan katanya, konteksnya, maknanya bagi Anda, keterkaitannya dengan ayat lain, dan pelajarannya, berdasarkan tafsir klasik.

Renungkan ayat ini dengan Maani